Disusun oleh: WeKa Institute
1. Pengantar Filosofis
Tembakau adalah ciptaan Tuhan yang tumbuh alami. Menyebut tembakau sebagai penyebab penderitaan manusia sama saja dengan MENUDUH Tuhan menciptakan sesuatu yang sia-sia. Ini adalah bentuk fitnah spiritual yang dipoles dengan narasi ilmiah yang bias kepentingan.
2. Asal-Usul Narasi Negatif
Narasi “tembakau = kanker” menguat sejak 1950-an dari studi yang tidak membedakan tembakau alami dan produk industri kimiawi.
Studi tersebut berbasis pola konsumsi ekstrem, bukan penggunaan tradisional atau terapeutik.
3. Fakta Ilmiah Tersembunyi
Tembakau mengandung senyawa antioksidan dan enzim potensial anti-kanker.
Digunakan dalam bioteknologi untuk memproduksi antibodi dan senyawa imunologi.
Penelitian independen menunjukkan tembakau dapat menghambat pertumbuhan sel kanker tertentu.
4. Kanker : Bukan Soal Tembakau
- Kanker adalah akibat gaya hidup, genetika, inflamasi, dan stres oksidatif.
- Banyak penderita kanker tidak pernah merokok.
- Pemaksaan berhenti tembakau tanpa pertimbangan medis bisa memperburuk kondisi metabolik individu.
5. Perang terhadap Herbal oleh Kolonialisme Modern
Tembakau, kratom, ganja, dan herbal lain dijadikan target demonisasi.
Barat kini mendorong tembakau sintetis berbasis paten untuk menguasai pasar, sementara negara berkembang mematikan sektor tembakaunya sendiri karena mengikuti narasi asing tanpa kajian ilmiah lokal.
6. Dimensi Ekonomi
Pelarangan tembakau alami memukul petani dan ekonomi desa.
Industri Barat justru menjual produk nikotin sintetis dengan nilai ekonomi tinggi.
Ini adalah kolonialisme ekonomi baru yang mengalihkan manfaat ke negara pemilik lisensi.
7. Prinsip Konsumsi Bijak
Seperti kopi dan herbal lain, tembakau aman jika tidak berlebihan.
Bukan untuk anak-anak atau ibu hamil, tetapi dewasa berhak mengkonsumsi secara sadar.
Larangan total tanpa nalar justru membodohi masyarakat dan menghancurkan nilai ekonomi lokal.
8. Kesimpulan dan Rekomendasi
Tembakau bukan musuh. Yang berbahaya adalah kerakusan industri dan propaganda sepihak. Tembakau perlu direhabilitasi secara ilmiah, spiritual, dan ekonomi.
Rekomendasi :
1. Kembangkan riset tembakau lokal.
2. Edukasi publik dengan pendekatan seimbang.
3. Tegaskan label antara produk alami dan industri.
4. Reposisi tembakau sebagai aset strategis.
5. Reformasi kebijakan berbasis nalar, bukan tekanan global. (***)
Tinggalkan Balasan