Oleh: Mohammad Fuad – Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Sosial (Puskas)

Kondisi PBNU hari ini menunjukkan gejala jelas bahwa jarak antara elite organisasi dan denyut aspirasi jamaah di bawah semakin melebar. Suara kiai-kiai kampung, pengurus cabang, dan para santri muda kian pelan terdengar di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang melilit NU dari berbagai arah.

Dalam situasi seperti ini, muncul gagasan bahwa Gus Yahya perlu belajar dari pengalaman Cak Imin. Gagasan tersebut bukan tanpa dasar. Dalam sejarah politik nasional, jarang ada tokoh yang diserang dari berbagai penjuru, dipinggirkan, bahkan nyaris disingkirkan, tetapi tetap mampu menyelamatkan partainya dari kehancuran — dan itu dilakukan oleh Cak Imin.

Hari ini PBNU berada pada posisi yang sulit. Tahapan konflik sudah memasuki level yang membahayakan, dengan potensi pecahnya kekerasan maupun sengketa hukum. Sementara itu, PBNU dinilai terlalu dekat dengan lingkar kekuasaan, rentan terhadap intervensi ekonomi dan politik, serta terlalu sibuk mengelola persepsi ketimbang memperkuat konsolidasi jamaah. Di sinilah relevansi pelajaran dari perjalanan PKB menjadi penting.

Ketika Cak Imin dipecat oleh Gus Dur dan badai politik memporak-porandakan PKB, banyak yang mengira partai itu akan bubar. Nyatanya tidak. Mengapa?

Karena Cak Imin melakukan tiga langkah penting: mengunci loyalitas struktur akar rumput, mengelola konflik internal dengan cermat, dan memastikan partai tetap hidup ketika semua pintu seolah tertutup.

Ini bukan soal suka atau tidak suka terhadap figur tertentu, melainkan soal strategi bertahan dalam sistem politik yang keras dan penuh intervensi.

Dalam realitas politik hari ini, NU menjadi magnet bagi berbagai kepentingan besar. Tanpa mekanisme pengamanan internal seperti yang dibangun PKB pasca-dualisme, konflik kepemimpinan di NU berpotensi semakin terbuka. NU pun rentan menjadi alat legitimasi kekuasaan, sementara kiai-kiai pesantren hanya menjadi ornamen atau pemberi stempel, bukan penentu arah moral organisasi. Inilah risiko yang sedang dihadapi PBNU sekarang.

Pelajaran dari Cak Imin bukan tentang meniru gaya politiknya. Bukan soal manuver atau koalisi. Yang harus dipelajari adalah cara mempertahankan organisasi ketika dikepung kekuatan besar, bagaimana menertibkan struktur yang mulai kehilangan orientasi, serta bagaimana mengembalikan NU ke tangan warga nahdliyyin, bukan ke kelompok elite atau oligarki politik.

Jika PKB selamat dari kehancuran total, itu karena kepemimpinannya sadar bahwa organisasi harus lebih kuat daripada para elitnya. PBNU perlu memetik pelajaran yang sama.

Meski sering digambarkan berbeda, kedua tokoh—Gus Yahya dan Cak Imin—berasal dari tradisi yang sama: tradisi musyawarah para kiai, tradisi merawat jamaah, dan tradisi menjaga martabat NU (serta tradisi bercanda tentang “penikmat terong gosong” yang menjadi lelucon khas keduanya).

Pertemuan keduanya bukan sekadar wacana personal, tetapi kebutuhan strategis agar NU tidak terombang-ambing dalam pusaran perebutan kekuasaan yang semakin kasar.

PBNU di bawah Gus Yahya kini berada di persimpangan berbahaya. Jika tidak mampu mengelola tekanan politik nasional, NU berisiko berubah menjadi sekadar simbol, bukan lagi kekuatan moral.

Karena itu, Gus Yahya memang perlu belajar dari pengalaman Cak Imin, bukan untuk menjadi politisi, tetapi untuk membangun ketahanan organisasi, menghindarkan NU dari kooptasi kepentingan, dan memastikan jam’iyyah ini tetap menjadi milik warga NU, bukan milik kekuasaan. (***)