JAKARTA RAYA-Ketua Dewan Pembina KONI DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi menegaskan dukungan penuh kepada Prof. Dr. Hidayat Humaid, M.Pd yang mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum KONI DKI Jakarta masa bakti 2026–2030.

Pendaftaran dilakukan di hadapan Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP7) di Lantai 4 Gedung KONI DKI Jakarta, Selasa (31/12).

Prasetyo menyebut, dukungan tersebut bukan bersifat simbolik, melainkan wujud keseriusan bersama seluruh insan olahraga Jakarta.

Ia hadir langsung bersama 73 perwakilan dari cabang olahraga, KONI kota/kabupaten, serta badan fungsional untuk mendampingi Prof. Hidayat Humaid sejak titik kumpul deklarasi hingga proses pendaftaran resmi.

“Langkah yang kami ambil hari ini adalah bentuk komitmen bersama. Prof. Hidayat Humaid telah membuktikan pengalaman panjang dan konsistensinya dalam pembinaan prestasi olahraga selama puluhan tahun,” ujar Prasetyo yang akrab disapa Om Pras.

Dalam kesempatan deklarasi, Pras kembali menegaskan besarnya target prestasi olahraga DKI Jakarta ke depan.

Ia menyebut, Jakarta harus menatap posisi juara umum pada PON 2028 serta memperkuat kejayaan di berbagai kejuaraan nasional dan internasional.

Menurutnya, target besar tersebut hanya bisa dicapai dengan persiapan matang, mulai dari tata kelola kelembagaan yang solid, pembinaan prestasi yang terukur, peningkatan kualitas kompetisi, ketersediaan fasilitas olahraga yang memadai, hingga sinergi kuat antara KONI, seluruh cabang olahraga, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Semua itu akan lebih mudah diwujudkan jika Prof. Hidayat Humaid melanjutkan kepemimpinan sebagai Ketua KONI DKI Jakarta,” tegasnya.

Pras yang hingga kini masih aktif berkiprah di dunia olahraga balap ini mengaku menyimpan harapan besar agar olahraga Jakarta terus melaju dan disegani.

Ia menilai Prof. Hidayat Humaid merupakan figur yang memahami ekosistem olahraga Jakarta dan memiliki peta jalan jelas menuju prestasi.

“Kepemimpinan bukan soal siapa yang berdiri di depan, tetapi siapa yang mampu menyalakan semangat. Jika tongkat estafet diberikan kepada tangan yang tepat, Jakarta bukan hanya berjalan, tapi berlari dan menulis sejarah prestasinya sendiri,” pungkas Pras.