Oleh: Wawat Kurniawan (Weka Institut)
Demi kepentingan ekonomi Amerika, merampok, menjajah, dan menekan negara berdaulat lain dianggap wajar?
Jika jawabannya YA,
Maka seluruh bangunan peradaban modern adalah kebohongan.
Untuk apa dunia mengajarkan:
- ilmu bisnis,
- manajemen,
- ekonomi,
- tata kelola,
- hukum internasional?
- ilmu politik
- ilmu pemerintahan
Kalau ujungnya satu:
siapa kuat, boleh Merampas. Ini HUKUM RIMBA, ini BARBARISM
Cuitan dan narasi media seperti yang disebarkan oleh The Economist—yang secara terbuka membahas bagaimana Donald Trump “menginginkan minyak Venezuela”—bukan lagi analisis netral.
Itu normalisasi penjajahan ekonomi.
- Bahasanya halus.
- Isinya brutal.
Mereka TIDAK bertanya:
- Apakah ini legal?
- Apakah ini bermoral?
- Apakah ini melanggar kedaulatan?
Yang ditanya hanya:
- “Berapa biaya?”
- “Berapa lama?”
- “Apakah menguntungkan?”
Seolah-olah minyak negara berdaulat adalah barang tanpa pemilik. Kalau memang dunia menerima logika ini, maka jangan lagi bicara demokrasi.
- Jangan lagi bicara HAM.
- Jangan lagi bicara hukum internasional.
Akui saja dengan jujur:
- Dunia sedang kembali ke HUKUM RIMBA.
- Survival of the fittest.
- Siapa kuat, dia ambil.
- Siapa lemah, dia dijarah.
- Siapa melawan, dia diberi label kriminal.
Inilah wajah kapitalisme yang sebenarnya
Kapitalisme membangun dunia
di mana keberhasilan satu bangsa berdiri di atas kehancuran bangsa lain.
Ia merayakan kemenangan:
- tanpa peduli korban,
- tanpa peduli kehancuran sosial,
- tanpa peduli kedaulatan.
Kapitalisme, pada inti terdalamnya,
bukan sistem kemajuan manusia,
melainkan ekosistem predator.
- Yang LICIK menyingkirkan yang JUJUR.
- Yang kuat memangsa yang lemah.
- Yang cepat menginjak yang tertinggal.
Semua dibungkus:
- jas rapi,
- gelar akademik,
- jargon kebebasan.
Padahal isinya sama seperti ribuan tahun lalu:
- penaklukan.
- Ini bukan lagi soal Venezuela
- Ini soal arah umat manusia.
Jika:
kepala negara berdaulat bisa diperlakukan seperti objek rampasan,
sumber daya bangsa bisa dibicarakan seolah harta tak bertuan, hukum internasional tunduk pada kepentingan ekonomi, maka peradaban modern telah gagal total.
Yang tersisa hanya:
- barbarisme dengan dasi,
penjajahan dengan spreadsheet,
perbudakan dengan istilah “pasar bebas”.
Dan sejarah selalu mencatat satu hal:
- Peradaban tidak runtuh karena miskin teknologi.
Ia runtuh karena kehilangan rasa malu.
Saat dunia tahu ini salah, namun tetap membenarkannya demi untung.
Saat itu,
- bukan Venezuela yang kalah
- kemanusiaan yang kalah. (***)


Tinggalkan Balasan