JAKARTA RAYA – Ketika isu keadilan ekologis kembali mengemuka pascabencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sepanjang 2025, secercah harapan tumbuh dari Utara Jakarta. Di Rusun Marunda, sekelompok perempuan secara konsisten merawat lingkungan, membangun kesadaran ekologis, dan menanam masa depan yang lebih lestari—dimulai dari ruang bersama mereka sendiri.

Pada Senin, 19 Januari 2026, sejumlah perempuan di Rusun Marunda mengikuti pembelajaran pembuatan eco enzyme. Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari gerakan ekologis berbasis komunitas yang terus berkembang di kawasan tersebut.

Eco enzyme merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi sampah organik berupa kulit buah atau sisa sayuran, gula merah atau molase, dan air. Cairan ini bermanfaat sebagai pembersih alami, pupuk organik, pestisida nabati, penjernih udara dan air, hingga solusi ramah lingkungan untuk mengurangi limbah dapur. Proses pembuatannya relatif mudah, dengan perbandingan bahan 1:3:10 (gula, sampah organik, dan air), lalu difermentasi selama tiga bulan dalam wadah tertutup. Hasilnya berupa cairan berwarna cokelat tua dengan aroma asam manis khas yang kaya manfaat.

Inisiatif ini didukung oleh Yayasan Meek Nusantara yang secara konsisten menggerakkan edukasi dan praktik produksi eco enzyme di wilayah Marunda. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan dilakukan secara berkala dengan melibatkan warga serta pengelola RPTRA. Melalui pendampingan yayasan tersebut, saat ini telah berkembang delapan kelompok pertanian berbasis eco enzyme. Hasil panen sudah dinikmati oleh petani dan warga, sementara limbah dapur yang sebelumnya terbuang kini termanfaatkan secara optimal.

Upaya pertanian komunitas di Rusun Marunda juga diperkuat dengan keberadaan green house yang dikelola UPRS Marunda bersama warga. Pengelola hidroponik sayuran—Agus, Ria, Cindy, dan Gita—terus meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mulai mempelajari strategi pemasaran ke berbagai mitra. Pembelajaran bertani secara profesional dikembangkan secara bertahap guna menjawab permintaan pasar yang kian terbuka.

Selain sektor pertanian pangan, warga Marunda juga mengembangkan Taman Bunga Marhamas (Marunda Berhati Emas) yang berlokasi di Jalan Akses Rusunawa Marunda, Blok D, RW 012, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Taman yang dikelola tim PJLP UPRS Marunda ini tidak hanya menghadirkan ruang hijau estetis, tetapi juga menjadi pusat pembibitan, wisata edukasi, wisata alam, dan rekreasi keluarga.

Pengelolaan sampah organik di Marunda turut diperkuat melalui Komar (Kompos Marunda), yang digerakkan oleh Bang Hery bersama warga. Daun-daun dan sampah organik diolah menjadi kompos dan eco enzyme. Program ini terbukti mampu mengurangi volume sampah ke Tempat Pembuangan Akhir, menyediakan pupuk alami bagi tanaman, memperbaiki kualitas tanah, serta menekan ketergantungan pada pupuk kimia.

Kesadaran ekologis juga tumbuh melalui Rumah Kreatif Marunda yang dikoordinir oleh Mas Kiky. Beragam limbah seperti kardus, botol bekas, stik es krim, cangkang kerang, ranting, biji-bijian, kain perca, hingga sandal jepit diolah menjadi produk kerajinan bernilai guna dan ekonomi. Rumah Kreatif ini merangkul remaja, anak putus sekolah, serta ibu-ibu untuk berkarya sekaligus belajar mandiri secara ekonomi.

Semangat serupa hadir dari Kelompok Lansia Produktif Marunda di Blok A Rusun Marunda, yang dipelopori Pak Tohari dan rekan-rekannya. Mereka mengolah botol plastik bekas menjadi pot bunga unik. Aktivitas ini bukan hanya sarana berkarya, tetapi juga ruang berbagi cerita dan menjaga semangat produktif di usia senja—membuktikan bahwa usia boleh menua, namun semangat tetap menyala.

Sejak 2016, Rusun Marunda juga telah memiliki Bank Sampah yang awalnya didukung CSR PLN dan kini telah mandiri. Sampah anorganik dipilah dan dijual ke mitra pengumpul, sementara warga memperoleh buku tabungan sebagai catatan nilai ekonomi dari sampah rumah tangga mereka.

Bank Sampah Marunda digerakkan oleh Mila bersama lima perempuan lainnya. Dalam diskusi akhir 2025 bersama Pemkot Jakarta Utara dan UPRS Marunda, disepakati rencana penguatan Bank Sampah agar semakin banyak warga terlibat dan ke depan dapat menjadi alternatif pembayaran biaya rusun melalui sampah. Pada 17 Januari 2026, pengumpulan sampah se-RW 11 berhasil menghimpun 207,5 kilogram sampah. Saat ini, nasabah kelompok mampu menghasilkan rata-rata Rp1 juta per tahun, sementara nasabah individu sekitar Rp200–300 ribu per tahun.

Mila berharap dukungan armada jemput sampah yang lebih layak serta penyediaan fasilitas TPST 3R dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pelibatan warga secara lebih luas dinilai krusial agar Bank Sampah benar-benar menjadi solusi ekologis dan ekonomi.

Di kawasan pesisir Marunda, perempuan juga menjadi garda terdepan dalam pelestarian mangrove. Lebih dari 10 ibu rumah tangga terlibat aktif dalam kegiatan ini, di antaranya Ibu Siti Ghonimah, Ibu Rani, dan Ibu Meysha yang mengelola Rumah Mangrove Marunda binaan Rumah Zakat. Penanaman mangrove dilakukan secara reguler bersama berbagai pihak, sekaligus menjadi destinasi eduwisata bagi sekolah dan komunitas.

Dalam diskusi akhir 2025, pengelola berharap dapat mengembangkan budidaya kepiting atau ikan di kawasan mangrove, sembari menyuarakan harapan agar pembangunan rusun baru tidak menggusur mangrove yang telah menjadi ikon wisata dan benteng ekologis Marunda dari pencemaran dan abrasi.

Melihat konsistensi dan daya juang perempuan Marunda, peluang pengembangan Kampung Eduwisata Ekologi di kawasan Ruang Bersama Indonesia (RBI) Marunda kian terbuka. Wilayah ini didukung delapan RPTRA—enam di dalam Rusun Marunda dan dua di luar—yang dikelola oleh 45 orang, dengan 39 di antaranya perempuan. RPTRA menjadi ruang pembelajaran sejak dini tentang bertanam, pengelolaan sampah, dan cinta lingkungan, dilengkapi lahan hijau serta literatur ekologi.

Memasuki 2026, harapan besar bertumpu pada keberlanjutan gerakan ekologis ini. Dukungan pembinaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta sarana pendukung perlu terus diperkuat. Dari Marunda, perempuan menunjukkan bahwa pembangunan berkeadilan ekologis bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata menuju lingkungan yang lestari dan bahagia. (hab)