JAKARTA RAYA — Institut Teknologi PLN (ITPLN) menjajaki kerja sama strategis dengan Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) untuk memperluas program ikatan kerja sekaligus menyiapkan talenta unggul di sektor energi, seiring meningkatnya kebutuhan industri ketenagalistrikan nasional.

Ketua Umum APLSI Eka Satria mengatakan, peran produsen listrik swasta dalam sistem ketenagalistrikan nasional kian dominan. Hal tersebut sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang menempatkan sekitar 70 persen pengembangan pembangkit listrik pada sektor swasta.

“Dengan dominasi swasta dalam RUPTL, kebutuhan tenaga kerja terampil di sektor energi, khususnya energi bersih, akan terus meningkat,” ujar Eka di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Pernyataan itu disampaikan Eka yang juga menjabat CEO Medco Power Indonesia, saat menerima kunjungan Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa bersama jajaran pimpinan kampus. Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran Wakil Rektor, Kepala Rektorat ITPLN Purnomo, Direktur Lemtera ITPLN Warsono, Direktur Training Center ITPLN Suharto, serta Manajer Pemasaran dan Admisi ITPLN Andi Dahroni.

Eka menilai, potensi energi terbarukan Indonesia masih sangat besar, baik dari sisi sumber daya maupun kebutuhan pasar. Menurutnya, agenda transisi energi membuka peluang kolaborasi yang luas antara industri pembangkitan listrik dan perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan siap pakai.

Kerja sama antara APLSI dan ITPLN direncanakan tidak hanya mencakup program ikatan kerja bagi mahasiswa, tetapi juga pengembangan studi lanjutan, riset terapan, pelatihan, serta peningkatan kompetensi bagi pelaku industri anggota APLSI, termasuk Medco Power Indonesia.

“APLSI berkomitmen mendukung pemerintah dan PLN dalam menjaga kepastian investasi, keterjangkauan tarif, keandalan sistem, serta memastikan transisi energi berjalan seimbang dan terukur,” kata Eka.

Saat ini, APLSI menaungi lebih dari 30 produsen listrik swasta, baik IPP maupun non-IPP, dengan total kapasitas pembangkit mendekati 20 gigawatt atau sekitar 50 persen kontribusi pembangkit non-PLN. Keanggotaannya mencakup seluruh bauran energi nasional, mulai dari gas, batubara, panas bumi, hidro, biomassa, dan surya, hingga teknologi baru seperti battery energy storage system (BESS) dan interkoneksi.

APLSI juga tercatat sebagai Anggota Luar Biasa Kadin Indonesia serta aktif mendorong pengembangan teknologi energi baru, seperti waste-to-energy, small modular reactor (SMR), dan smart grid sebagai agenda prioritas asosiasi.

Sementara itu, Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa menyambut positif rencana kerja sama tersebut. Saat ini, ITPLN secara rutin menjalankan program ikatan kerja dengan PLN untuk sekitar 250 mahasiswa per tahun, serta dengan Asosiasi Praktisi Pendingin dan Tata Udara Indonesia (APITU) hingga 100 mahasiswa per tahun.

“Kami akan segera menindaklanjuti program ikatan kerja dengan APLSI. Orientasi dunia kerja kini menjadi pertimbangan utama calon mahasiswa. Mereka ingin setelah lulus langsung siap kerja, dan itu yang kami tawarkan di ITPLN,” ujar Iwa.

Selain ikatan kerja, kolaborasi APLSI dan ITPLN juga diarahkan pada penguatan kompetensi melalui studi lanjutan dan pelatihan, guna menjawab kebutuhan industri ketenagalistrikan yang semakin kompleks di era transisi energi. (hab)