JAKARTARAYA – Para pedagang daging di Jakarta sempat ancam mogok jualan, akibat tingginya harga sapi hidup, beberapa waktu lalu.
Direktur Utama (Dirut) Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, pun menanggapi aksi mogok jualan tersebut.
Raditya menjelaskan bahwa rencana mogok jualan terjadi lantaran pedagang menilai harga sapi hidup melambung terlalu tinggi.
Kondisi itu membuat para pedagang keberatan berjualan dan mendorong pemerintah turun tangan.
“Kemarin itu kan memang ada rencana mogok. Nah, rencana mogok itu memang dikarenakan harga sapi hidupnya terlalu tinggi, menurut para pedagang. Jadi pedagang itu tidak mau berjualan,” ujar Raditya kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).
Harga Sapi Hidup Disepakati Maksimal Rp 56.000 per Kilogram
Menindaklanjuti situasi tersebut, Kementerian Pertanian mengundang para pemangku kepentingan, termasuk Dharma Jaya, untuk mencari solusi.
Dari pertemuan itu disepakati adanya harga maksimum sapi hidup di tingkat feedlotter atau perusahan penggemukan sapi potong sebesar Rp 56.000 per kilogram.
“Akhirnya ditetapkanlah harga maksimum penjualan itu harus 56.000 di feedlotter,” kata Raditya.
Sebagai BUMD yang menjadi rujukan pemotongan, Dharma Jaya kini berperan sebagai wasit untuk memastikan aturan harga itu benar-benar dipatuhi.
Pemotongan Sapi di Dharma Jaya Wajib Serahkan Faktur Pembelian
Setiap pihak yang ingin melakukan pemotongan sapi di fasilitas Dharma Jaya, wajib menyerahkan faktur pembelian sebagai bukti bahwa transaksi dilakukan sesuai harga maksimum yang telah disepakati.
“Sebelum motong, yang mau motong di kita itu harus menyerahkan fakturnya. Itu bukti bahwa mereka sudah memenuhi kesepakatan, baru mereka bisa potong di kita. Kalau misalnya ternyata harga fakturnya 56.500, kita nggak boleh potong di sana,” tegasnya.
Kebijakan verifikasi faktur ini sudah berjalan sejak akhir pekan lalu. Raditya menegaskan bahwa mekanisme tersebut diharapkan dapat mengembalikan kestabilan harga daging di pasaran.
“Harusnya iya, harusnya daging itu harganya stabil. Kalaupun naik sedikit, dan itu pun momentum aja sebetulnya,” ujarnya.
Mogok Jualan Justru Picu Kenaikan Harga
Sebelumnya, Asisten Perekonomian dan Keuangan DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menyebutkan kenaikan harga daging sapi di Jakarta salah satunya dipicu aksi mogok oleh sejumlah pedagang.
“Memang kemarin sempat terjadi lonjakan, karena memang tiga hari, waktu itu, kawan-kawan pemotong menyatakan mogok gitu, ya,” ujar Eliawati di Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Namun, dia menegaskan dampak dari aksi tersebut tidak berlangsung lama karena koordinasi lintas sektor berjalan cepat.
“Karena koordinasi kita yang kuat, BUMD mempunyai support yang sangat tinggi. Kemudian, stok kita itu memang benar-benar ada. Jadi mereka hanya mogok satu hari, dan itu berpengaruh terhadap harganya,” jelas Eli. (MAN)


Tinggalkan Balasan