JAKARTA RAYA – Haul ke-77 Tan Malaka digelar di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Sabtu (14/2/2026).
Peringatan tersebut menjadi momentum ziarah sekaligus refleksi atas gagasan dan jejak intelektual tokoh bangsa yang dinilai tetap relevan lintas generasi.
Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka (Ibratama), Ferizal Ridwan Sultan Purnama Agung, mewakili keluarga Kelarasan Bungo Setangkai Pandam Gadang, menyampaikan apresiasi kepada pegiat sejarah, jurnalis, mahasiswa, dan masyarakat yang terlibat dalam penyelenggaraan haul.
Ia berharap kegiatan ini mempererat silaturahmi keluarga besar, pengagum, dan simpatisan Tan Malaka di Limapuluh Kota dan Kediri.
Yayasan juga merencanakan doa bersama dan tabur bunga pada 21 Februari 2026 di Limapuluh Kota, serta agenda berbuka bersama pada Ramadan mendatang.
Tokoh masyarakat Khairul Apit menambahkan, rangkaian kegiatan turut menjadi refleksi satu tahun kepemimpinan kepala daerah Limapuluh Kota 2025–2029, sekaligus memperingati 77 tahun wafatnya Tan Malaka, 20 tahun penemuan makam di Selopanggung, dan 10 tahun pemindahan makam ke Limapuluh Kota.
Secara historis, Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1963 oleh Presiden Soekarno.
Makamnya di Selopanggung teridentifikasi luas pada pertengahan 2000-an setelah kajian sejarah dan temuan forensik yang menguatkan dugaan terkait akhir hayatnya.
Perwakilan Tan Malaka Institute Jawa Timur, Imam Mubarok, menyebut haul tahun ini dimajukan dari jadwal rutin 21 Februari karena bertepatan dengan Ramadan. Selain ziarah, kegiatan diisi pembacaan biografi, puisi, lagu perjuangan, dan tahlil, dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Kediri hingga Madiun.
“Haul menjadi ruang edukasi publik untuk menghidupkan kembali diskursus kebangsaan. Antusiasme peserta menunjukkan pemikiran Tan Malaka tetap relevan dan menginspirasi,” ujar Imam. (ali)


Tinggalkan Balasan