JAKARTA RAYA – Nama Eileen Gu kembali mencuri perhatian dunia olahraga setelah tampil gemilang di Olimpiade Milan Cortina. Atlet ski gaya bebas ini meraih tiga medali emas dan tiga medali perak, mempertegas posisinya sebagai salah satu bintang paling berkilau di ajang olahraga musim dingin tersebut.
Namun, prestasinya bukan semata soal kekuatan fisik. Eileen Gu mematahkan stereotip bahwa atlet hanya mengandalkan otot tubuh. Ia membuktikan bahwa ketajaman berpikir dan kedewasaan intelektual sama pentingnya dengan performa di arena.
Lahir di San Francisco dari ayah Amerika dan ibu Tionghoa, Eileen memiliki latar belakang multikultural. Sejak 2019, ia memilih mewakili Tiongkok dalam kompetisi internasional. Fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, ia menjadi simbol generasi global yang melampaui batas identitas nasional.
Mahasiswi Stanford dan Konsep Neuroplastisitas
Di luar arena ski, Eileen adalah mahasiswa di Stanford University, salah satu universitas paling prestisius di dunia. Dalam sebuah konferensi pers di Livigno, Italia, usai meraih emas, ia mendapat pertanyaan tajam dari jurnalis tentang bagaimana ia bisa menjawab isu geopolitik, aerodinamika, dan olahraga dengan cepat dan komprehensif.
Jawabannya justru menjadi viral. Dengan tenang, ia menjelaskan bahwa manusia dapat mengendalikan cara berpikirnya, dan dengan demikian mengendalikan siapa dirinya. Ia menyebut konsep neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk terus beradaptasi, membentuk koneksi baru, dan berkembang sepanjang hayat.
Konsep ini kini banyak digaungkan para ahli neurologi. Neuroplastisitas memungkinkan manusia terus belajar, menguasai keterampilan baru, bahkan pulih dari cedera otak. Eileen Gu tak sekadar memahami teori ini, ia menerapkannya dalam hidup—memprogram tujuan, membangun mental juara, dan mewujudkannya dalam prestasi nyata.
Ketangguhan Emosional di Tengah Duka
Prestasi gemilangnya di Olimpiade juga dibayangi duka pribadi. Di tengah kompetisi, ia menerima kabar wafatnya sang nenek, Guozhen Feng, sosok yang ia sebut sebagai pilar kekuatan hidupnya.
Eileen menggambarkan neneknya sebagai “steamship” — kapal uap yang mengendalikan nasibnya sendiri. Sebelum berangkat bertanding, ia berjanji untuk berani seperti sang nenek, bukan sekadar berjanji untuk menang. Medali emas yang ia raih menjadi simbol janji yang ditepati.
Di tengah tekanan tinggi, ia menunjukkan kedewasaan emosional luar biasa. Baginya, kemenangan bukan hanya soal podium, tetapi tentang keberanian, integritas, dan penghormatan pada akar keluarga.
Atlet, Model, dan Ikon Global
Selain sebagai atlet, Eileen Gu juga dikenal sebagai model profesional dengan pendapatan fantastis. Pada 2025, ia diperkirakan meraih pendapatan sekitar USD 23,1 juta, terutama dari kerja sama dengan merek-merek mewah seperti Louis Vuitton dan Tiffany & Co..
Ia menjadi simbol perempuan modern yang memadukan kecerdasan, kekuatan fisik, kedewasaan emosional, serta keberanian menentukan identitasnya sendiri.
Eileen Gu bukan sekadar atlet juara. Ia adalah representasi generasi baru—yang memahami kekuatan tubuh sekaligus kekuatan pikiran. Sosok yang membuktikan bahwa gelombang pasang memang bisa mengangkat semua perahu, termasuk perahu masa depannya sendiri. (rw)


Tinggalkan Balasan