JAKARTARAYA – Gerakan boikot produk pro Israel dan Amerika kembali menggema, menyusul serangan dua negara tersebut ke Iran dan menewaskan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan Udara Israel dan Amerika juga menyasar Sekolah Dasar (SD) Putri dan menewaskan ratusan anak-anak.
Salah satu seruan boikot produk pro Israel dan Amerika disampaikan Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ketua FPP Kabupaten Indramayu, Azun Mauzun, mengajak jutaan santri di ribuan pondok pesantren se-Nusantara untuk berhenti menggunakan produk dari perusahaan yang teridentifikasi memiliki afiliasi kuat dengan Amerika Serikat dan Israel.
Protes Keras Terhadap Kebijakan Israel dan Amerika
Seruan boikot produk pro Israel dan Amerika ini, kata Azun, sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan Israel dan Amerika Serikat yang dinilai mencederai nilai kemanusiaan.
“Seruan ini merupakan ajakan terbuka sebagai bentuk protes terhadap situasi kemanusiaan yang sedang terjadi. Kami meminta umat Islam untuk berhenti menjadi bagian dari rantai ekonomi yang mendukung pihak-pihak terlibat konflik global,” ujar Azun kepada media, pada Senin (2/3/2026).
Menurut Azun, langkah ini bukan sekadar persoalan konsumsi harian, melainkan pernyataan sikap moral yang mendalam.
Ajak Santri Suarakan Keadilan Internasional
Sebagai pengelola Pondok Pesantren Al-Qur’aniyah Krangkeng, ia menegaskan bahwa dunia pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam menyuarakan keadilan internasional.
Ia meyakini bahwa kekuatan kolektif jutaan santri di Indonesia mampu memberikan dampak signifikan bagi ekonomi global dan menjadi penggerak perdamaian dunia.
“Boikot adalah cara damai namun tegas untuk menunjukkan penolakan terhadap kekerasan dan kekejaman perang yang terus memakan korban jiwa. Komitmen pada perdamaian harus diwujudkan melalui tindakan nyata sehari-hari,” tegasnya.
Selain sebagai aksi protes, gerakan ini diharapkan menjadi momentum bagi umat Islam untuk lebih selektif dan mandiri.
Alihkan Dukungan kepada Produk Dalam Negeri
Azun mendorong masyarakat untuk mengalihkan dukungan kepada produk-produk lokal atau alternatif lain yang tidak memiliki keterkaitan dengan konflik.
“Semoga gerakan ini menjadi momentum bagi umat untuk semakin mencintai produk dalam negeri demi kemandirian bangsa dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan universal,” tuturnya.
Langkah yang diambil FPP Indramayu ini menambah daftar panjang gelombang solidaritas muslim Indonesia dalam mendukung kemerdekaan dan kedamaian di kawasan Timur Tengah melalui jalur diplomasi ekonomi.
“Pesantren dan umat Islam seharusnya senantiasa berdiri di baris paling depan sebagai penggerak perdamaian dunia,” ujar pengelola Pondok Pesantren Al-Qur’aniyah Desa Dukuh Jati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu tersebut.
Azun menegaskan, boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat merupakan salah satu cara damai namun tegas dalam menunjukkan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan dan kekejaman perang yang terus memakan korban jiwa. (MAN)


Tinggalkan Balasan