Oleh: Andi Muhammad Jufri, Praktisi Pembangunan Sosial

Ketika panas matahari mengeraskan tanah, harapan meninggi agar hujan datang. Namun, bila air membanjiri sawah, rumah di kampung dan di kota, harapan hujan tak datang dan sinar mentari yang bersinar lebih mencuat.

Di musim kemarau, hujan begitu dirindu. Diharap datang tiba-tiba dan sangat dinanti di tengah situasi yang gersang. Ada cinta yang mendalam kepada hujan. Dikesunyian, doa terpanjat harap kedatangannya. Perasaan melankoli dan nostalgia dirintik hujan terkenang. Ada sedih dan gembira di hati ingat masa lalu.

Hujan merupakan fenomena alam yang membawa berbagai situasi, mulai dari kesedihan, kerinduan, hingga kebahagiaan. Lagu hujan (Utopia) menjadikan hujan sebagai momen seseorang mengenang masa yang bahagia. Sementara, lagu rintik hujan (Hhivi, Geral Situmorang, Ify Alyssa dan Sri Hanuraga) menceritakan tentang seseorang yang mencoba mengingat masa indah dan bahagia ketika sedang bermain hujan. Sebuah masa, tak ada beban, dan rindu bisa kembali ke masa itu.

Lagu menari (Maliq & D’Essentials) menceritakan tentang seseorang yang sedang menikmati momen kebersamaan dengan orang yang dicintainya dan perasaan tersebut diwakili oleh hujan.

Benyamin Sueb dan Ida Royani dengan lagu “hujan gerimis” mengajak memahami arti kehidupan dan tak perlu menyesali apa yang pernah terjadi. Shella on 7 melalui lagu “hujan turun” menceritakan kegalauan batin mempertahankan kekasih. sementara Fatin dengan lagu “Pelangi dan Hujan” mencetitakan tentang pasangan yang kasmaran.

Semua cerita indah di atas, begitu terindukannya hujan yang telah menyejukkan, sekaligus membangkitkan gairah hidup romantis bagi kita semua.

Namun, bila hujan yang ditunggu, telah datang, tercurah begitu banyak dan lama seperti melepas rindu, kita pun kewalahan. Kapasitas atau volume air yang berlebih, mencari tempat pelepas rindu. Sungai dan drainase meluap, dan kita lupa menyiapkan tempat bagi air. Air tidak bisa terserap karena banyaknya beton, sementara akar tanaman tak ada yang menuntun masuk ke dalam tanah. Air mengalir ke lahan pertanian dan pemukiman, bertemu langsung dengan perindu mereka

Adakah air hujan itu kita rindukan selama panas terik kemarin itu yang salah ?

Manusia yang melankoli inilah yang salah. Kerinduan kepada air hujan, tidak dipersiapkan secara baik untuk menerima kedatangannya. Hujan datang yang begitu lebat, berharap ditampung dengan ribuan embun dan hutan yang lebat agar ada cadangan air bila hujan tak datang dalam waktu lama.

Hujan berharap agar jalannya dimudahkan. Sungai dan drainase diperbaiki. Jangan mendangkal dan dipenuhi lumpur. Jangankan hujan lebat, hujan sebentar saja datang, genangan air dijalan melebar dan dalam, karena drainase jalanan tertutupi bangunan dan sampah tak terperhatikan. Begitu banyak peristiwa kemacetan melanda hanya karena drainase di sepanjang jalan tersendat terhambat.

Hujan lebat juga datang tidak tanpa maksud. Hujan ingin curahan kerinduannya, tersimpan dalam pori-pori tanah, di aliran urat basah di berbagai lapisan tanah. Urat basah di lapisan tanah akan memperkuat permukaan tanah secara tidak langsung. Sekaligus juga, sumber air minum yang menyejukkan manusia?

Air hujan ingin diingat dan dirindu, bahkan diteguk sebagai penghilang dahaqa di berbagai musim. Namun, karena kita lalai atau secara sengaja, hanya karena aspek keindahan atau kemalasan, kita tega mengusir air hujan keluar jauh dari pemukiman, bahkan mengalirkannya ke laut. Hampir semua pemukiman atau rumah kita sendiri, semua air yang jatuh, dari atap rumah, jatuh ke parit bersemen, halamam rumah berkeramik kasar dan padat, memantulkan air dan juga membuangnya le saluran air menuju selokan bersemen Air yang terlimpah itu, masuk ke drainase besar yang dasarnya batu dan kerikil, mengalir jauh.

Kita mengeluh tentang air tanah yang semakin dalam. Kita mengeluh atas turunnya permukaan tanah. Hujan memberi solusi, tapi kita semua tak mengjiraukan. Berapa lubang resapan air sudah kita buat di sekitar rumah kita ? berapa lubang resapan air yang kita buat di pemukiman di kampung dan di kota kita ? Ada berapa pohon telah kita tanam di sekitar rumah dan lingkungan kita semua?

Pernahkah kita memikirkan tentang kampung hijau ? kampung seribu pohon ? kalau belum, ini berarti kita hanya rindu hujan turun, rindu akan tamu yang menyejukkan, tapi kita tidak mempersiapkan menerimannya dengan baik.

Hujan yang kita rindukan bisa juga ngambet tak karuan. Niatnya ingin melepas rindu, berbagi kehangatan dan kemanfaatan hidup, namun kita telah membuat hujan terasa terdampak merusak bagi hidup kita.

Mari bersama mensyukuri datangnya hujan yang kita rindukan bersama. Menerimanya dengan kelayakan ruang dan tempat sebagai rahmat dan tamu yang memberi manfaat dan berkah. (***)