JAKARTA RAYA, Depok — Memasuki usia ke-18, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dinilai telah mencapai fase kedewasaan politik yang menuntut tanggung jawab kebangsaan lebih besar. Tidak lagi sekadar hadir sebagai organisasi politik, Gerindra dipandang telah bertransformasi menjadi kekuatan nasional yang memikul mandat ideologis, etis, dan konstitusional.
Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra dimaknai sebagai titik transisi penting dari ideologi perjuangan menuju pengembanan amanat kebangsaan. Sekretaris DPC Partai Gerindra Kota Depok, H. Hamzah, menilai usia 18 tahun sebagai fase krusial yang menguji kematangan sebuah partai politik.
Menurut Hamzah, Gerindra tidak cukup dinilai dari simbol perjuangan maupun retorika ideologis semata, melainkan dari kemampuannya menerjemahkan nilai perjuangan tersebut ke dalam kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan rakyat.
“Gerindra lahir dari ideologi perjuangan melawan ketimpangan dan ketidakadilan. Di usia ke-18 ini, perjuangan itu harus bertransformasi menjadi amanat kebangsaan: menjaga kedaulatan rakyat, memperkuat persatuan nasional, dan menghadirkan keadilan sosial secara nyata,” ujar Hamzah, Rabu (4/2/2026).
Ia menegaskan bahwa sejak awal berdiri, Partai Gerindra berpijak pada nilai nasionalisme, kedaulatan rakyat, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil, sejalan dengan Pancasila. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus menjadi kompas moral dalam setiap keputusan dan sikap politik.
“Ideologi harus hidup dalam kebijakan, keberanian politik, dan konsistensi membela kepentingan rakyat. Tanpa itu, perjuangan akan kehilangan legitimasi,” tegasnya.
Hamzah juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) sebagai konsekuensi etis dari ideologi perjuangan. Ia menilai nasionalisme sejati justru tercermin dari kemampuan negara melindungi martabat warganya.
“Negara yang kuat adalah negara yang berani melindungi martabat rakyatnya. HAM bukan agenda tambahan, tetapi bagian integral dari amanat kebangsaan,” katanya.
Dalam konteks daerah, Hamzah menyebut politik lokal sebagai ruang pembuktian paling konkret bagi konsistensi ideologi partai. Kota Depok, sebagai wilayah penyangga ibu kota, dinilai memiliki posisi strategis dalam memastikan nilai perjuangan hadir dalam kebijakan publik.
“Depok adalah cermin negara. Jika ideologi perjuangan dan penghormatan terhadap HAM hadir dalam kebijakan daerah, maka kontribusi terhadap bangsa menjadi nyata dan substantif,” ujarnya.
Memasuki usia ke-18, lanjut Hamzah, Partai Gerindra dituntut untuk memperkuat peran politik di daerah, mulai dari pengawasan kebijakan publik, advokasi kepentingan masyarakat, hingga keberanian menyuarakan aspirasi rakyat dalam ruang pengambilan keputusan.
Momentum HUT ini juga menjadi ruang refleksi menyeluruh atas perjalanan partai, termasuk evaluasi capaian politik, konsistensi ideologis, serta kedekatan kader dengan persoalan riil masyarakat sebagai indikator kedewasaan politik.
Hamzah turut mengapresiasi kepemimpinan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang dinilainya telah membawa Indonesia pada posisi terhormat di panggung global. Meningkatnya kepercayaan internasional terhadap Indonesia disebut sebagai cerminan penguatan diplomasi nasional.
Menurutnya, tantangan kebangsaan ke depan semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga dinamika geopolitik global. Oleh karena itu, partai politik dituntut memiliki kematangan ideologis sekaligus tanggung jawab moral.
“Ideologi memberi arah, HAM memberi batas, dan amanat kebangsaan mengikat tanggung jawab,” tandasnya.
Menutup pernyataannya, Hamzah berharap HUT ke-18 Partai Gerindra menjadi momentum penguatan peran partai di Kota Depok sebagai bagian dari perjuangan nasional menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera.
“Dirgahayu ke-18 Partai Gerindra. Semoga perjuangan tetap berpihak pada rakyat dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (pr)


Tinggalkan Balasan