JAKARTA RAYA – Kematian YBS (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menyingkap persoalan mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia. Tragedi ini dinilai bukan sekadar kasus individual, melainkan dampak dari tekanan sosial dan pengabaian sistemik yang dialami anak-anak dari keluarga miskin.

Lembaga kajian kebijakan publik IndexPolitica menilai kematian YBS sebagai bentuk Social Murder atau pembunuhan sosial dalam dunia pendidikan—sebuah konsep yang merujuk pada hilangnya nyawa akibat kelalaian struktural, minimnya perlindungan sosial, serta lemahnya respons negara terhadap kelompok rentan.

Direktur Eksekutif IndexPolitica, Alip Purnomo, menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional. Menurutnya, kasus YBS mencerminkan bagaimana sistem pendidikan yang terlalu formalistik dan tidak sensitif terhadap kondisi sosial murid dapat menciptakan tekanan psikologis yang serius.

YBS diketahui meninggal dunia setelah beberapa hari tidak masuk sekolah. Sebelumnya, sang ibu yang merupakan seorang janda dan menanggung lima anak, meminta YBS untuk kembali bersekolah. Namun, keterbatasan ekonomi ekstrem membuat keluarga tersebut tidak mampu memenuhi permintaan anaknya akan buku dan alat tulis.

“Bagi anak dari keluarga miskin, datang ke sekolah tanpa perlengkapan belajar bukan sekadar persoalan akademik, melainkan pengalaman sosial yang menekan secara psikologis,” ujar Alip.

Ia menambahkan, meskipun tidak terdapat kekerasan fisik secara langsung, sistem pendidikan yang abai terhadap kondisi sosial murid dapat melahirkan dampak yang fatal. Rasa malu, ketakutan, tekanan sosial, serta ketidakpastian administratif kerap menumpuk menjadi beban mental yang berat bagi anak-anak.

IndexPolitica menjelaskan bahwa istilah Social Murder digunakan untuk menggambarkan kematian atau kerugian serius yang muncul akibat pengabaian institusional dan lemahnya perlindungan negara. Sistem yang gagal memastikan kebutuhan dasar, martabat, serta kesehatan mental anak berkontribusi pada meningkatnya risiko yang membahayakan nyawa.

Oleh karena itu, IndexPolitica mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik pendidikan dasar, khususnya di wilayah miskin dan tertinggal. Perlindungan martabat anak, akses terhadap perlengkapan belajar, serta perhatian terhadap kesehatan mental murid harus menjadi bagian integral dari kebijakan pendidikan nasional.

“Kematian YBS adalah peringatan keras bahwa pendidikan tidak boleh menjadi sumber tekanan sosial. Tanpa pembenahan serius pada sensitivitas sosial dan perlindungan anak, tragedi serupa berpotensi terus berulang,” tutup Alip. (hab)