JAKARTARAYA – Pak Prabowo, saat KTT G20, Anda menyebut masih ada 25% anak Indonesia yang kelaparan. Itu Pak Prabowo sampaikan di depan peserta KTT G20. Mungkin, ini mungkin ya, saat itu ada negara lain yang berpendapat: kasihan sekali Indonesia. Sehingga perlu kita bantu.

Dari sisi kepedulian Pak Prabowo terhadap anak Indonesia, ini luar biasa. Sehingga muncul program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Masalah anak kelaparan inilah yang menjadi landasan kuat dan penting bagi Pak Prabowo akan perlunya program tersebut.

Berdasarkan data BPS, jumlah anak Indonesia usia 0 – 19 tahun sebanyak 88,8 juta. Sementara anak usia 0-4 tahun berjumlah 22 juta. Berarti anak usia 5-19 tahun atau usia sekolah, ada 66 juta.

Kalau Pak Presiden menyebut 25 % anak Indonesia kelaparan, maka 25% x 66 juta = 16,5 juta.

Jika kita asumsikan biaya MBG per porsi Rp 15.000, berarti biaya per hari 15.000 x 16.500.000 = Rp 247.500.000.000.

Kalau setahun, menjadi Rp 247.500.000.000 x 365 hari = Rp 90.337.500.000.000 atau kita bulatkan menjadi Rp 90,3 triliun dalam setahun.

Kenyataanya, Badan Gizi Nasional (BGN) telah mencairkan anggaran Rp 32,1 triliun dalam waktu satu setengah bulan untuk seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Indonesia.

Pertanyaannya, kenapa bisa beda hitungannya? BGN mengeluarkan Rp 32 triliun untuk 1,5 bulan. Sedangkan hitungan kami Rp 90,3 triliun untuk setahun.

Jawabnya: Karena niat awalnya, program MBG hanya diberikan kepada 25 % anak Indonesia yang kelaparan. Ternyata, sekarang anak yang tidak kelaparan juga diberikan makan gratis.

Lalu, apa alasan semua anak diberikan MBG? Coba jelaskan kepada kita semua. Sampai 4 tahun berdiskusi, berdebat, bahkan sampai bertengkar pun tidak akan ada titik temu.

Karena dari semua BEM di Indonesia, hanya satu BEM UGM yang berani bicara soal MBG. BEM kampus lain kemana? Dari semua partai yang ada, baru satu partai yang berani bicara blak-blakan soal MBG, yaitu PDIP. Yang lain kemana mereka!

Jadi, Pak Guru tanyakan di kelas bapak ibu: berapa persen murid yang kelaparan? Kalau sudah ada, lapor pada MBG (Mahasiswa Bersama Guru). Mari menghadap KDM Bapak Aing. Atau lapor ke Pak Purbaya, iye ogeh Bapak Aing urang Bogor.

Kenapa tidak langsung lapor ke Pak Presiden Prabowo? Karena beliau sedang sibuk, kabarnya mau reshuffle lagi. (Bang JR)