JAKARTA RAYA, Swiss – Ekonomi kreatif (ekraf) terus menunjukkan perannya sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada semester I tahun 2025, sektor ini menyerap 26,47 juta tenaga kerja dan mencatat investasi hingga Rp90,12 triliun. Hal tersebut disampaikan Ketua Delegasi Kementerian Ekonomi Kreatif saat membuka kegiatan Business Matching dengan sejumlah perusahaan dan calon investor di Zürich, Rabu (4/12).
Dalam paparannya, ia juga menyebut bahwa Swiss kini menjadi negara tujuan ekspor ekraf terbesar kedua bagi Indonesia setelah Amerika Serikat, dengan nilai mencapai USD 960,6 juta pada semester I 2025. Posisi ini menunjukkan besarnya potensi kerja sama kedua negara di sektor ekraf.
Rangkaian kegiatan promosi ini diinisiasi Kementerian Ekonomi Kreatif dengan dukungan penuh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern. Empat perusahaan Indonesia dibawa langsung untuk mempresentasikan peluang investasi, yaitu Sour Sally Group, Akasacara Film, PT Ladang Lima, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singasari.
Keempatnya memberikan pemaparan di hadapan mitra bisnis Swiss sekaligus melakukan sesi pitching untuk menjajaki peluang kemitraan lebih mendalam dengan calon investor potensial.
Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya, menekankan pentingnya memperkuat promosi ekraf Indonesia di luar negeri. “Kontribusi Ekraf terhadap PDB Indonesia terus meningkat selama satu dekade, dan kini mencapai sekitar 7%. Kolaborasi Indonesia–Swiss sangat tepat, karena jika kreativitas dipadukan dengan inovasi teknologi yang menjadi kekuatan Swiss, akan lahir industri kreatif yang unggul,” ujarnya.
Menurut Dubes Ngurah, kreativitas Indonesia akan memiliki daya saing global bila ditopang inovasi berbasis sains dan teknologi, sebagaimana yang telah berkembang kuat di Swiss.
Sebelum acara Business Matching, delegasi Ekraf berdialog dengan diaspora Indonesia di Swiss yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari teknologi kesehatan, kafe, spa, hingga kriya. Delegasi juga meninjau toko produk adventure Indonesia—Eiger—di Interlaken.
Pertemuan berlangsung di Dapura Mia, restoran Indonesia milik diaspora di Zürich, di mana para pelaku usaha menyampaikan tantangan dan harapan dukungan pemerintah untuk memperkuat penetrasi produk ekraf Indonesia di pasar Swiss dan Eropa.
“Diaspora Indonesia selama ini telah menjadi duta bangsa, tidak hanya melalui profesi masing-masing, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam memperkuat citra dan jejaring Indonesia di Swiss,” kata Lily Savitri, Kepala Bidang Ekonomi KBRI Bern.
Indonesia menargetkan penguatan industri kreatif nasional agar memiliki kualitas setara dengan standar kompetitif Swiss. Karena itu, peningkatan interaksi bisnis, akses pasar, serta kerja sama investasi dengan Swiss menjadi salah satu prioritas utama pengembangan ekraf.
Dengan pendekatan berbasis kolaborasi, inovasi, dan diplomasi ekonomi, pemerintah berharap kemitraan ini mampu menghasilkan perpaduan kreatif antara ide-ide Indonesia dan teknologi industri Swiss, sehingga produk ekraf Indonesia semakin dikenal di Swiss dan berbagai negara Eropa lainnya. (rw)


Tinggalkan Balasan