JAKARTA RAYA– Fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah mendapat perhatian serius dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN). Aksi pembelian BBM secara berlebihan dilaporkan terjadi di beberapa wilayah seperti Jember, Medan, dan sejumlah daerah di Aceh.

Kepanikan masyarakat muncul setelah beredarnya isu mengenai potensi gangguan pasokan energi global yang dipicu meningkatnya tensi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Ketua BPKN RI, Mufti Mubarok, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan.

“BPKN mengimbau masyarakat agar tidak panik. Konsumen BBM sebaiknya tetap tenang, waspada terhadap situasi global, tetapi tidak melakukan pembelian secara berlebihan,” kata Mufti dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, kepanikan justru dapat memicu kelangkaan semu di lapangan karena distribusi BBM menjadi tidak seimbang akibat lonjakan pembelian yang tidak wajar.

Mufti menegaskan bahwa Indonesia memiliki berbagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan.

“Kita memiliki banyak sumber energi. Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan efisiensi penggunaan energi, termasuk efisiensi dalam penggunaan transportasi,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat dalam kondisi apa pun.

“Negara tetap wajib hadir memastikan pasokan BBM bagi masyarakat apa pun caranya, karena energi merupakan kebutuhan strategis yang menopang aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, BPKN juga mengingatkan operator transportasi publik untuk bersiap menghadapi potensi lonjakan penumpang jika masyarakat mulai beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum sebagai langkah penghematan energi.

“Operator transportasi publik harus bersiap jika terjadi lonjakan pengguna. Ada kemungkinan terjadi shifting dari transportasi pribadi ke transportasi publik sebagai bentuk efisiensi penggunaan energi,” jelas Mufti.

Di sisi lain, BPKN juga meminta PT Pertamina (Persero) memastikan distribusi BBM tetap lancar di seluruh wilayah, terutama menjelang periode arus mudik Lebaran.

“Pertamina harus segera memastikan stok BBM di jalur-jalur mudik mencukupi sehingga masyarakat tidak khawatir dan tidak terjadi antrean panjang di SPBU,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa stok energi nasional masih dalam kondisi aman. Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan situasi global yang berpotensi memengaruhi pasokan energi.

Pandangan serupa disampaikan pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. Ia menilai panic buying justru berpotensi menimbulkan gangguan distribusi BBM di lapangan.

“Jika masyarakat membeli secara berlebihan, maka distribusi yang sebenarnya cukup bisa menjadi terganggu,” ujarnya.

Karena itu, berbagai pihak berharap masyarakat tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak agar stabilitas pasokan BBM nasional tetap terjaga. (hab)