JAKARTA RAYA, Milan – Umat Muslim di berbagai negara Eropa merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Perayaan Lebaran tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan hari Jumat, sehingga sebagian komunitas Muslim dapat menggabungkan pelaksanaan salat Idul Fitri dengan salat Jumat dalam suasana penuh kebersamaan.
Penetapan 1 Syawal 1447 H di kawasan Eropa dan sebagian besar negara Arab mengacu pada pendekatan astronomi yang digunakan oleh European Council for Fatwa and Research (ECFR). Berdasarkan perhitungan tersebut, konjungsi atau ijtimak bulan baru terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23 GMT.
Pada saat matahari terbenam di hari yang sama, posisi bulan telah berada di atas cakrawala di wilayah Eropa Barat dan Amerika Utara. Kondisi ini memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat), sehingga memungkinkan bulan sabit awal terlihat, baik dengan bantuan alat optik maupun secara kasat mata. Dengan demikian, bulan Ramadan digenapkan menjadi 29 hari dan 1 Syawal ditetapkan jatuh pada keesokan harinya, yakni Jumat, 20 Maret 2026.
Namun demikian, terdapat perbedaan penetapan Lebaran di sejumlah negara Asia. Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 setelah hasil Sidang Isbat menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi kriteria visibilitas minimum pada Kamis malam.
Perbedaan ini juga terjadi di beberapa negara lain seperti India, yang turut menetapkan Idul Fitri sehari setelah Eropa dan Timur Tengah. Variasi tersebut mencerminkan perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah, baik melalui hisab (perhitungan astronomi) maupun rukyat (pengamatan langsung).
Meski berbeda tanggal, semangat kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan tetap dirasakan umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Eropa yang merayakan Lebaran di tengah nuansa musim semi yang hangat dan penuh harapan. (rw)


Tinggalkan Balasan