JAKARTA RAYA, Milan — Pekan mode mendatang di Milan akan menjadi yang pertama tanpa kehadiran sang “Re Giorgio” atau Raja Giorgio. Wafatnya Giorgio Armani pada 4 September lalu bukan sekadar kehilangan ikon, melainkan meninggalkan kekosongan mendalam bagi dunia mode, khususnya Italia.

Armani dikenal sebagai maestro yang merevolusi busana pria sekaligus mendefinisikan ulang keanggunan. Desainnya tak hanya menjadi tren, tetapi melahirkan identitas gaya Italia yang mendunia. Merek Armani merambah berbagai lini, mulai dari haute couture, prêt-à-porter, parfum, kosmetik, hingga perabot rumah tangga.

Lebih dari sekadar mode, warisan Armani adalah filosofi hidup: keanggunan, pengendalian diri, dan keindahan abadi. Julukan “Re Giorgio” lahir dari reputasi dan dedikasi yang ia bangun selama lebih dari lima dekade. Perhatian pada detail, komitmen terhadap kualitas, serta inovasi yang tak pernah stagnan membuatnya dihormati di seluruh dunia.

Tak hanya bagi pria, Armani berjasa mempopulerkan power suit untuk perempuan dan memperkenalkan pendekatan fleksibel terhadap maskulinitas. Ia bukan sekadar perancang, melainkan pendiri rumah mode mewah Armani Group yang menjadi simbol elegansi Italia.

Lahir di Piacenza pada 11 Juli 1934, Armani tumbuh dalam kesederhanaan masa Perang Dunia II. Awalnya ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Milan, namun berhenti untuk bertugas di Angkatan Darat Italia. Karier fesyennya bermula sebagai penata etalase di La Rinascente, sebelum bekerja di rumah mode Cerruti 1881. Pada 1975, bersama Sergio Galeotti, ia mendirikan label Giorgio Armani yang kemudian mendunia.

Ciri khasnya adalah siluet minimalis dengan sentuhan dekonstruktif, terutama pada jaket dan setelan. Gayanya mendefinisikan ulang keanggunan maskulin maupun feminin. Dalam dunia film, lebih dari 100 judul mengenakan kostum karyanya, termasuk American Gigolo dan The Untouchables.

Imperium bisnisnya berkembang pesat dengan berbagai sub-merek seperti Emporio Armani, Armani Junior, dan AX Armani Exchange. Ia juga pionir fesyen berkelanjutan, antara lain dengan melarang model kekurangan berat badan tampil di peragaannya sejak 2007. Saat pandemi COVID-19, Armani menjadi salah satu desainer pertama yang menggelar peragaan busana daring, langkah cerdas yang kemudian diikuti banyak rumah mode.

Sepanjang hidupnya, Armani meraih berbagai penghargaan prestisius, termasuk Officer of the Legion of Honour (2008) dan Knight Grand Cross of the Order of Merit of the Italian Republic (2021). Pada akhir hayatnya, ia meninggalkan warisan finansial senilai 12,1 miliar dolar AS, sekaligus jejak keanggunan yang tak ternilai.

Kini, dunia mode menghadapi babak baru tanpa sang maestro. Namun, warisan Armani akan terus menginspirasi generasi perancang berikutnya dan menjadi simbol keanggunan Italia yang abadi.

— Rieska Wulandari, Koresponden Milan