JAKARTA RAYA, Medan — Dugaan sikap tidak profesional dan intimidatif yang dilakukan seorang oknum dosen Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Sumatera Utara (USU) menuai keluhan dari orang tua mahasiswa. AP Harahap, orang tua salah satu mahasiswa, mengaku kecewa atas perlakuan dosen berinisial M Dolok Lubis, yang disebut kerap melarang mahasiswa mengikuti perkuliahan.
AP Harahap menuturkan, anaknya berulang kali dikeluarkan dari kelas setiap mata kuliah yang diasuh dosen tersebut, sehingga tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara normal.
“Saya sangat kecewa. Setiap mata kuliah yang diajarkan dosen itu, anak saya selalu diusir dan tidak diizinkan mengikuti perkuliahan. Akibatnya, anak saya mengalami tekanan batin dan stres hingga enggan kuliah lagi. Dosen harus bertanggung jawab,” ujar AP Harahap kepada wartawan, Minggu (18/1).
Ia mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik dengan menghubungi dosen yang bersangkutan melalui telepon dan pesan WhatsApp. Namun, upaya tersebut tidak mendapat respons.
“Saya sudah menelepon dan mengirim pesan WhatsApp, tapi tidak pernah diangkat atau dibalas. Bahkan pesan WhatsApp saya diduga di-screenshot dan disebarkan ke grup mahasiswa, lalu diarahkan seolah-olah saya meneror,” ungkapnya.
Situasi tersebut, lanjut AP Harahap, semakin memperburuk kondisi psikologis anaknya. Mahasiswa yang bersangkutan disebut dikeluarkan dari grup WhatsApp angkatan dan merasa terintimidasi. Ia juga mengklaim bahwa sejumlah mahasiswa satu angkatan mendapat tekanan serupa, termasuk ancaman sanksi kolektif dan rencana pemanggilan orang tua mahasiswa.
“Bahkan ada ancaman satu angkatan akan diberi sanksi. Informasi yang kami terima, surat pemanggilan orang tua tidak jadi dikeluarkan karena tidak disetujui Ketua Program Studi, karena dinilai sarat kepentingan pribadi,” ujarnya.
AP Harahap mengaku telah menyampaikan persoalan ini kepada pihak Humas USU dan dijanjikan akan diselesaikan secara internal. Namun hingga dua pekan berlalu, belum ada perkembangan berarti.
“Saya menahan diri demi menjaga nama baik Fakultas Teknik USU. Tapi sudah dua minggu tidak ada solusi. Anak saya kuliah bukan gratis, setiap semester kami membayar dengan jerih payah. Kalau terus dilarang ikut kuliah, bagaimana penilaiannya?” katanya.
Ia menegaskan dalam waktu dekat akan menemui Rektor maupun Dekan Fakultas Teknik USU untuk meminta penyelesaian yang adil dan objektif.
“Kalau anak saya terlibat narkoba atau tawuran, saya terima jika dikeluarkan. Ini hanya persoalan sepele terkait kegiatan Family Gathering. Terpaksa saya sampaikan ke publik karena saya merasa dilecehkan,” ujarnya.
Kronologi Awal Persoalan
Berdasarkan penuturan AP Harahap, konflik antara dosen dan sejumlah mahasiswa bermula dari kegiatan Family Gathering (Famgath) bertajuk KUKEKA, yang melibatkan mahasiswa angkatan 2022 dan 2025. Kegiatan tersebut disebut telah dibahas dalam Forum IMA pada 17 September 2025 dan mendapat persetujuan awal dari M Dolok Lubis.
Namun menjelang H-4 pelaksanaan kegiatan, dosen tersebut menerima pesan anonim yang mempertanyakan banyaknya kegiatan bagi mahasiswa baru serta dugaan unsur kewajiban yang dinilai membebani secara finansial. Pesan anonim tersebut dianggap tidak sesuai etika komunikasi akademik.
Karena pengirim pesan tidak diketahui, M Dolok Lubis kemudian mengumumkan penghentian seluruh kegiatan yang melibatkan mahasiswa angkatan 2025 hingga identitas pengirim pesan terungkap.
“Setidaknya ada lima mahasiswa yang merasa mendapat tekanan dan intimidasi, termasuk anak saya,” ujar AP Harahap.
Ia juga mengklaim adanya ancaman agar mahasiswa angkatan 2025 tidak direkomendasikan mengikuti proses kaderisasi Ikatan Mahasiswa Arsitektur (IMA) maupun kepengurusan organisasi ke depan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Fakultas Teknik Arsitektur maupun Universitas Sumatera Utara terkait dugaan tersebut. Redaksi masih berupaya meminta klarifikasi dari pihak-pihak terkait guna menjaga keberimbangan informasi. (sin)


Tinggalkan Balasan