Oleh: Weka Institute
IHSG Anjlok 2,04% Bukan Karena Spekulasi, Tapi Karena Rakyat Tidak Lagi Spekulatif
29 Agustus 2025 akan tercatat sebagai hari perlawanan sipil yang mengubah peta stabilitas nasional.
Tangkapan layar dari CNBC Indonesia mengonfirmasi: IHSG jatuh bebas 2,04%. Ini bukan karena krisis global. Bukan karena suku bunga AS. Bukan karena defisit neraca dagang.
Ini karena rakyat turun ke jalan.
Massa ojek online—yang selama ini hanya dianggap angka statistik oleh pengambil kebijakan—hari ini menjadi aktor utama dalam perubahan politik ekonomi nasional.
Ribuan Ojol Berbaris di Jantung Ibu Kota
Gambar dari gedung-gedung tinggi di kawasan Sudirman memperlihatkan barisan tak berujung ribuan pengemudi ojol memadati ruas utama Jakarta. Ini bukan demonstrasi biasa.
Ini bukan soal orderan.
Ini bukan tuntutan upah semata.
Ini adalah ekspresi amarah kolektif terhadap sistem perpajakan yang menindas, dan terhadap wakil rakyat yang menghina mereka di atas mimbar kekuasaan.
Dari Sentimen ke Simbol
Mereka bergerak bukan karena provokasi, tapi karena penghinaan yang terlalu dalam:
joget-joget anggota DPR saat kenaikan gaji, dan ucapan “rakyat tolol”.
Mereka bergerak bukan untuk rusuh, tapi untuk menunjukkan bahwa negara ini bukan milik elite yang bermain anggaran, melainkan milik rakyat yang mati-matian bertahan di antara pinjaman, pajak, dan ketidakpastian.
Narasi Ini Sudah Tidak Bisa Dibendung Lagi
- Kapital pasar ambruk karena fondasi sosial yang rapuh.
- Negara selama ini terlalu percaya pada indeks makroekonomi,
- dan lupa bahwa indeks kepercayaan rakyat jauh lebih penting dari sentimen investor.
IHSG jatuh karena rakyat tidak lagi melihat masa depan dalam sistem yang sekarang.
Investor lari bukan karena ketidakpastian global, tetapi karena kemarahan rakyat yang tidak lagi bisa ditekan dengan narasi stabilitas semu.
Untuk Presiden dan Elite Negeri Ini
Rakyat sudah bicara.
Mereka tidak datang ke jalan dengan spanduk partai. Mereka datang dengan bendera merah putih.
Dan bendera itu dikibarkan bukan untuk simbolisme nasionalisme,
tetapi untuk menyatakan bahwa mereka adalah pemilik sah dari republik ini.
Hari ini bukan sekadar unjuk rasa.
Ini peringatan keras: jika negara tak segera mengubah haluan, maka rakyat sendiri yang akan mengubahnya. (***)
Tinggalkan Balasan