JAKARTA RAYA — Sebuah gerakan kolaboratif baru bertajuk Pergerakan Patriot Nusantara atau PATRION Movement resmi diluncurkan hari ini di Jakarta. Gerakan ini hadir dengan misi membangkitkan semangat patriotisme, nasionalisme, dan kreativitas yang berakar dari identitas budaya Nusantara yang luhur.

PATRION, sebagai penggagas, menekankan pentingnya peran seluruh elemen masyarakat — mulai dari generasi muda, siswa, seniman, komunitas, pelaku usaha, hingga tokoh publik dan aparatur negara — untuk bersatu memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan. Fokus utama PATRION tertuju pada tiga pilar utama: Pendidikan, Budaya, dan Etika.

“PATRION Movement mengajak seluruh elemen bangsa bersatu padu untuk terlibat secara partisipatif dan kolaboratif dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Ichsan Ashadi, Founder PATRION.

PATRION bertujuan menjadi ruang kolaborasi kreatif yang menghasilkan karya-karya nyata dan berdampak langsung, khususnya dalam membuka peluang kerja di sektor industri kreatif. Tak sekadar hiburan digital, PATRION juga menghadirkan program-program yang menyentuh langsung masyarakat melalui pendekatan edukatif dan kultural.

Beberapa di antaranya mencakup program “Kunna Bercerita” yang menyajikan dongeng Nusantara serta aktivitas menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, penciptaan lagu bertema kebangsaan seperti “Indonesia Nusantaraku” yang telah dirilis di platform digital, serta pengembangan karakter animasi superhero lokal yang membawa semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam produksi film dan animasi edukatif.

Dengan semboyan “PATRION Hadir untuk Nusantara,” gerakan ini merespons tantangan zaman, termasuk maraknya konten digital asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai lokal. Karakter edukatif dari PATRION disesuaikan untuk semua rentang usia, mulai dari PATRION MINIS untuk balita, PATRION GROOTH untuk anak-anak usia 7–10 tahun, hingga PATRION HUMAN untuk remaja dan dewasa muda.

Karakter-karakter utama PATRION terdiri dari delapan tokoh pejuang yang masing-masing mewakili wilayah budaya Nusantara, yakni Kunna dari Jawa, Wabu dari Jakarta, Asta dari Bali, Taran dari Sumatera, Arun dari Sulawesi, Kabi dari Papua, Sanu dari Kalimantan, dan Antis dari Atlantis. Mereka digambarkan sebagai penjaga nilai-nilai kebenaran dan keadilan dengan kekuatan yang berakar pada kekayaan budaya masing-masing daerah.

Berbagai produk kreatif telah diluncurkan, seperti buku mewarnai Kunna dan tumbler edisi “Indonesia Nusantaraku.” Dalam waktu dekat, program televisi seperti PATRION Travel Show akan hadir untuk menjelajahi kekayaan budaya Nusantara. Selain itu, dunia virtual PATRION Metaverse juga disiapkan sebagai ruang interaktif yang mengedukasi masyarakat secara digital, dan dapat diakses melalui www.patrion.id.

Peluncuran PATRION Movement mendapat sambutan hangat dari berbagai tokoh nasional. Penulis dan pegiat literasi Kang Maman Suherman menekankan bahwa gerakan ini adalah cara untuk menampilkan kebesaran bangsa sendiri yang sering dilupakan. Derry Derajat, selebritas sekaligus Dewan Pengawas Perfilman Indonesia, menyampaikan kebanggaannya atas kehadiran tokoh-tokoh superhero lokal.

Musisi nasional seperti Bongky Marcel dan Pay Siburian berharap PATRION bisa memperkaya khazanah kreativitas bangsa. Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi, menilai PATRION sebagai cerminan nilai-nilai ketimuran yang kuat, sementara musisi muda Dul Jaelani menilai mencintai PATRION adalah bagian dari mencintai budaya sendiri.

Dengan semangat Patriotisme, Budaya, dan Kreativitas, PATRION menjadi gerakan kolektif yang membawa harapan baru untuk membangun generasi unggul Indonesia. Karena menjaga dan membanggakan budaya Nusantara adalah tugas kita bersama. (sin)