JAKARTA RAYA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta menggelar Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) II Tahun 2026 dengan tema “Pengusaha Lokal sebagai Pilar Strategis Penggerak Ekonomi Provinsi DKI Jakarta”. Kegiatan tersebut berlangsung di Park Hyatt Jakarta, Kebon Sirih, Senin (9/3/2026).

Ketua Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, menegaskan bahwa penguatan pengusaha lokal memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, perkembangan usaha lokal tidak hanya meningkatkan aktivitas bisnis, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat perputaran ekonomi, serta meningkatkan penerimaan pajak daerah.

“Ketika pengusaha lokal tumbuh, yang berkembang bukan hanya bisnisnya, tetapi juga lapangan kerja, perputaran ekonomi, dan multiplier effect bagi masyarakat,” ujar Diana.

Ia menambahkan, dorongan agar masyarakat lebih banyak berbelanja di Jakarta dibandingkan di luar negeri memiliki makna penting bagi ekonomi daerah. Setiap transaksi yang terjadi di Jakarta, menurutnya, akan kembali berputar dan memperkuat perekonomian kota.

Diana juga mengapresiasi berbagai kebijakan afirmatif yang mulai memberikan peluang lebih besar bagi pengusaha lokal dalam berbagai proyek pembangunan di Jakarta, dengan tetap menjaga prinsip persaingan usaha yang sehat.

“Kami berharap Jakarta dapat mempertimbangkan kebijakan afirmatif yang memberi ruang dan prioritas bagi pengusaha lokal dalam pembangunan daerah. Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha semakin kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi Jakarta,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyoroti tantangan perekonomian global yang saat ini dipengaruhi berbagai gejolak geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada sektor energi dan stabilitas ekonomi dunia.

Menurut Anindya, kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi menembus 100 dolar AS per barel dapat memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau harga minyak terus naik hingga menembus seratus dolar, tentu ini menjadi tekanan yang luar biasa bagi APBN kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa defisit APBN yang saat ini mencapai lebih dari Rp600 triliun berpotensi meningkat hingga 40–50 persen jika tekanan eksternal terus berlanjut. Karena itu, berbagai langkah strategis perlu disiapkan untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Selain ketahanan energi, Anindya juga menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas inflasi, terutama menjelang momentum Hari Raya Idulfitri.

Ia mengapresiasi langkah Kadin DKI Jakarta yang ikut berperan dalam program pasar murah untuk membantu menekan kenaikan harga bahan pokok.

“Saya rasa ini sangat penting karena inflasi mulai merangkak naik. Karena itu penting bagi Kadin Indonesia bersama pemerintah untuk memastikan inflasi tetap terjaga, apalagi menjelang Lebaran,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang hadir sekaligus membuka Rapimprov II Kadin DKI Jakarta menegaskan bahwa Kadin merupakan mitra strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Pramono, kondisi ekonomi Jakarta saat ini masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi ibu kota tercatat mencapai 5,21 persen, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 16,61 persen.

Capaian tersebut, kata Pramono, menjadi modal penting bagi Pemprov DKI Jakarta untuk terus memperkuat ekosistem usaha lokal melalui berbagai kebijakan yang mendukung pengembangan dunia usaha.

“Kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha sangat penting untuk memastikan pelaku usaha lokal mampu bertahan, berkembang, dan menjadi penggerak utama perekonomian Jakarta,” ujarnya.

Melalui Rapimprov II Kadin DKI Jakarta 2026 ini, diharapkan tercipta sinergi yang semakin kuat antara pemerintah daerah dan dunia usaha dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru bagi ibu kota.