JAKARTA RAYA – Ratusan orang berduyun-duyun memadati Kedai Kopi Goenoeng, Cakung, Jakarta Timur, Kamis malam (11/9/2025). Aroma kopi bercampur suasana haru ketika doa tahlil dipanjatkan untuk mengenang almarhum Affan Kurniawan, seorang pekerja online yang meninggal tragis usai terlindas kendaraan taktis polisi dalam sebuah aksi demonstrasi menolak kebijakan pemerintah Prabowo-Gibran.

Di tengah keheningan itu, Alip Purnomo selaku Koordinator Forum Silaturahmi Alumni Universitas Indonesia (FORSA UI) menegaskan bahwa lahirnya Petisi SATU ASPAL bukan sekadar luapan emosi atas musibah yang menimpa Affan, melainkan sebuah panggilan moral untuk memperjuangkan nasib jutaan pekerja online di Indonesia.

Kesedihan semakin terasa ketika para pekerja online maju memberikan testimoni. Yulius, pengemudi berusia 54 tahun, menceritakan pahit getir hidupnya yang penuh ketidakpastian. Tarif sering berubah, potongan aplikasi besar, risiko di jalan ditanggung sendiri, dan akun bisa dinonaktifkan sewaktu-waktu. Kini tubuhnya kian renta, pendapatan semakin menurun. Dulu ia masih sanggup bekerja lebih dari 12 jam meski hasilnya pas-pasan, namun kini keterbatasan fisik membuat penghasilannya semakin tergerus. Cerita Yulius membuat banyak peserta tak kuasa menahan air mata.

Forum tersebut akhirnya mendeklarasikan Petisi SATU ASPAL, singkatan dari SolidAriTas Untuk ASpirasi PekerjA onLine. Petisi ini berisi empat tuntutan utama: pengakuan pekerja online sebagai buruh dengan hak penuh, pemberian perlindungan sosial yang adil, penetapan komponen tarif secara transparan dan melibatkan banyak pihak, serta pembentukan komisi independen pengawas platform digital.

Dukungan terhadap petisi ini datang dari berbagai kalangan. Selain FORSA UI, hadir pula sejumlah tokoh dan perwakilan politik seperti Ghozi Zulazmi (Anggota DPRD DKI Jakarta, F-PKS), Rio Sambodo (Anggota DPRD DKI Jakarta, F-PDIP), serta Achmad Azran (Anggota DPD RI dari DKI Jakarta, diwakili staf khususnya). Dukungan akademisi datang dari ET Hadi Saputra, sementara serikat pekerja dan komunitas diwakili oleh Fernando Halomoan dari FSBTN serta Raymon J. Kusnadi selaku Koordinator Advokasi SPAI. Erlyyanni Utami, tokoh perempuan dari Jakarta Utara, juga turut hadir memberi semangat.

Solidaritas tak hanya datang dari tokoh politik dan serikat buruh. Sejumlah pekerja online dan masyarakat umum pun ikut menandatangani dukungan. Kepala UPRS VI, Uye Yayat Dimiati, bahkan meneteskan air mata saat membubuhkan tanda tangan. Ia mengakui banyak penghuni rumah susun berprofesi sebagai pekerja online, sehingga perjuangan ini bukan sekadar simbolik, melainkan nyata menyentuh kehidupan sehari-hari warga.

Dari Cakung, gema Petisi SATU ASPAL kini bergema ke berbagai penjuru, menjadi seruan keadilan bagi para pekerja online yang selama ini hidup dalam ketidakpastian. (hab)