JAKARTA RAYA, Depok – Persoalan sampah masih menjadi masalah serius dan seharusnya menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Depok hingga 2025. Tumpukan sampah rumah tangga yang terjadi hampir di seluruh kelurahan tak hanya menimbulkan bau menyengat, tetapi juga memicu kekhawatiran warga terhadap ancaman penyakit, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara.

Salah satu titik yang kerap dikeluhkan warga adalah TPS Mawar di Kelurahan Depok Jaya. Sampah di lokasi tersebut nyaris tak pernah bersih terangkut ke TPA Cipayung. Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi alasan utama, di antaranya hanya tersedia satu unit truk pengangkut sampah berukuran tiga perempat, sementara volume sampah rumah tangga dari 14 RW di Kelurahan Depok Jaya terus meningkat setiap hari.

Pengawas TPS Mawar, Mardi, mengatakan penumpukan sampah di TPS sudah berlangsung lama dan seolah menjadi kondisi yang dianggap biasa.

“Sampah menggunung di TPS sementara ini sudah hal biasa. Sejak Mei lalu, pengangkutan ke TPA Cipayung hanya diambil sedikit-sedikit, tidak seluruhnya. Akibatnya, sampah menumpuk hingga lebih dari enam bulan dan menimbulkan bau busuk karena sampah lama yang berada di bagian bawah tidak bisa terangkat alat pengeruk,” ujar Mardi, Rabu (17/12/2025).

Ia menjelaskan, jika penumpukan sudah terlalu parah, warga dari seluruh RW terpaksa melakukan upaya mandiri dengan menyewa truk dan alat berat serta menggelar kerja bakti.

“Kami patungan untuk sewa truk, alat pengeruk, dan konsumsi para pekerja. Sampah dimasukkan ke truk lalu dibuang ke TPA Cipayung. Setiap kali sampah menggunung, solusinya selalu seperti ini. Perhatian dari Wali Kota Depok masih sangat kurang,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Amin, petugas pengangkut sampah warga Wijaya Kusuma. Menurutnya, daya tampung TPS Mawar sudah tidak memadai, sementara pengangkutan ke TPA hanya dilakukan satu kali dalam sehari.

“Kami ambil sampah warga sejak pagi, tapi di TPS sudah antre karena sampahnya menggunung. Truk pengangkut ke TPA Cipayung cuma satu kali dan ukurannya kecil, jadi sampah tidak terangkut semua,” jelas Amin.

Amin berharap persoalan sampah yang tak kunjung selesai dan menimbulkan bau menyengat hingga berisiko menimbulkan penyakit dapat menjadi perhatian serius Pemkot Depok.

“Penduduk Depok padat, otomatis sampahnya banyak. Sayangnya, saat ada wali kota baru, persoalan TPA Cipayung tidak dipikirkan mau dialihkan ke mana. Kalau tetap di Cipayung, jelas tidak akan mampu menampung karena sudah puluhan tahun beroperasi dan minim perbaikan, meskipun disebut menggunakan sistem sanitary landfill,” pungkasnya. (ema)