JAKARTA RAYA, Frankfurt – Gender ternyata tidak terlalu memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami masalah kesehatan mental. Laki-laki dan perempuan memiliki persentase yang hampir sama, yaitu 13,5% untuk pria dan 15% untuk wanita, demikian dikatakan Sven Juda, lulusan Master Psikologi Maastricht University, sarjana Psikologi dan Neurosains, serta co-founder Kesmenesia di Belanda.

“Perbedaan persentase yang tipis ini menunjukkan bahwa kedua gender sama-sama berisiko mengalami gangguan mental. Selama ini, mitos menyebut perempuan lebih rentan, padahal kenyataannya tidak demikian,” ujar Sven dalam diskusi publik bertajuk “Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21”, yang diselenggarakan secara online oleh Ruanita Indonesia di bawah Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia.

Sven menekankan bahwa kesehatan mental laki-laki sering terhambat stigma maskulinitas yang menuntut pria selalu kuat, tidak rapuh, dan jarang mengekspresikan perasaan. Norma gender ini berkontribusi pada rendahnya keterbukaan serta enggannya pria mencari bantuan profesional.

“Tidak benar bahwa perempuan lebih sering mengalami gangguan mental dibanding pria. Di Indonesia, laki-laki masih merasa tabu untuk membicarakan emosinya, apalagi langsung ke psikolog,” jelasnya.

Selain itu, alokasi dana untuk kesehatan mental di Indonesia masih sangat rendah, hanya 1,4% dari total anggaran kesehatan. Sven menambahkan bahwa tidak semua masalah harus dibawa ke psikolog atau diberi pengobatan, yang penting adalah mengenali tanda-tanda gangguan mental dalam dinamika keluarga.

Menurut Sven, tanda gangguan mental berbeda antara gender. Pada perempuan, gejala lebih sering muncul sebagai depresi, bipolar, dan gangguan makan, sementara pada pria cenderung berupa autisme, ADHD, dan gangguan perilaku. Kesadaran terhadap perbedaan ini membantu mencegah risiko lebih serius, termasuk bunuh diri, yang pada laki-laki dua kali lebih tinggi dibanding perempuan, meski angka nasional masih 850% lebih rendah dibanding rata-rata global.

Sementara itu, Fransiska Hapsari, co-founder Kemenesia di Jerman, menyoroti pengaruh dunia digital terhadap kesehatan mental. Era digital meningkatkan tekanan melalui perbandingan sosial, perfeksionisme, dan koneksi tanpa jeda, yang dapat memengaruhi kesejahteraan emosional. Ia menyarankan praktik seperti digital detox, digital declutter, atau puasa gawai, serta memanfaatkan internet secara produktif, misalnya untuk bekerja atau mencari informasi penting.

Menurut Fransiska, teknologi juga bisa menjadi alat positif untuk kesehatan mental, seperti aplikasi monitoring mood, journaling, guided meditation, atau komunitas “like-minded” untuk berbagi pengalaman, seperti komunitas postpartum atau grieving, serta workshop dan pelatihan berbasis kesehatan mental.

Acara ini terselenggara melalui kolaborasi Kemenesia dan KJRI Frankfurt, terbuka bagi siapa pun yang tertarik isu kesehatan mental. Acting Konsul Jenderal KJRI Frankfurt, Toary Worang, membuka acara dengan menekankan pentingnya literasi kesehatan mental dan memahami hambatan laki-laki dalam mengekspresikan emosi. Diskusi dipandu oleh Rasyid H. Wicaksono, perawat terdaftar di Jerman.

Sesi materi membahas pengaruh budaya dan konstruksi gender terhadap kesehatan mental laki-laki, serta tantangan kesehatan mental di era digital. Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif yang membuka ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan kebutuhan dukungan psikologis.

Sven berharap, melalui pendekatan kolektif dan kolaboratif, kegiatan ini menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memahami kesehatan mental dan gender dalam konteks budaya dan perkembangan teknologi. (rw)