JAKARTA RAYA, Larantuka – Sebuah pameran fotografi bertajuk “Tuan Ma, Maria dari Timur” karya Feri Latief menghadirkan perspektif mendalam tentang akar spiritualitas masyarakat di Larantuka, Flores Timur.
Pameran ini mengungkap benang merah antara kepercayaan purba suku Lamaholot dengan devosi kepada Bunda Maria yang telah hidup dan berkembang selama lebih dari lima abad.
Akar Matrilineal: Tanu Wujo sebagai Ibu Agung
Jauh sebelum masuknya pengaruh Eropa pada abad ke-16, masyarakat Lamaholot telah menganut sistem matrilineal yang menempatkan perempuan sebagai pusat kehidupan.
Dalam kosmologi lokal, sosok Tanu Wujo dikenal sebagai Ibu Agung—figur yang melambangkan sumber kehidupan, kesuburan, dan perdamaian.
Ketika sebuah patung perempuan terdampar di pesisir Larantuka sekitar tahun 1510, masyarakat setempat tidak melihatnya sebagai simbol asing. Patung tersebut justru dibawa ke dalam korke (rumah adat) dan diterima sebagai representasi dari Tanu Wujo.
Pertemuan Budaya dan Sinkretisme
Transformasi spiritual terjadi ketika misionaris Dominikan datang dan memperkenalkan patung tersebut sebagai Maria Dolorosa, atau Bunda Maria yang berdukacita.
Alih-alih menghapus kepercayaan lama, masyarakat Lamaholot justru mengintegrasikan nilai-nilai tersebut. Sosok Tanu Wujo menemukan resonansi dalam figur Bunda Maria, terutama dalam aspek kasih, pengorbanan, dan keibuan.
Proses ini melahirkan bentuk sinkretisme yang unik—perpaduan antara tradisi lokal dan ajaran Katolik yang tetap harmonis hingga kini.
Semana Santa: Warisan Spiritualitas 500 Tahun
Puncak dari perpaduan tersebut tercermin dalam tradisi Semana Santa Larantuka yang telah berlangsung lebih dari lima abad.
Ritual ini bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga simbol perjalanan sejarah dan spiritual masyarakat Larantuka.
Fotografer senior Bea Wiharta bahkan menyebut pengalaman menyaksikan tradisi ini sebagai sesuatu yang “wonderful”, menggambarkan kekuatan visual dan emosional yang dimilikinya.
Jembatan Keberagaman dan Identitas Budaya
Melalui karya visualnya, Feri Latief tidak hanya mendokumentasikan ritual, tetapi juga mengajak publik memahami bagaimana nilai penghormatan terhadap sosok ibu telah menjadi fondasi budaya yang melintasi zaman.
Pameran ini menjadi refleksi bahwa di tengah perbedaan kepercayaan, terdapat nilai universal yang menyatukan, yakni kasih, pengorbanan, dan kemanusiaan.
Lebih dari sekadar karya seni, pameran ini menjadi jembatan dialog antarbudaya, sekaligus pengingat akan kekayaan spiritual Indonesia yang lahir dari pertemuan tradisi dan sejarah panjang. (rw)


Tinggalkan Balasan