Oleh: L. Gatot Soesatyo*

JAKARTA RAYA – Ada satu hobi yang tanpa diketahui banyak orang telah berkembang menjadi sebuah industri bisnis yang tetap bergerak—meski pelan (atau, seperti kata para pelakunya, “sedang tiarap”)—di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya kondusif seperti belakangan ini.

Hobi itu adalah high-end audio, dengan produk utama berupa perangkat sistem stereo rumah, terutama sepasang speaker beserta perangkat pendukungnya.

Pada 5–7 November 2026 mendatang, sebuah komunitas pehobi bernama Indonesia High End Audio Club (IHEAC) kembali berencana menggelar pameran tahunan bertajuk JIAVS (IHEAC Jakarta International Audio Video Show) 2026 di hotel Fairmont Jakarta.

Ajang ini menjadi salah satu barometer untuk melihat seberapa besar gairah bisnis audio rumah di Indonesia, khususnya di segmen high-end.

JIAVS mempertemukan pecinta, pemerhati, hingga pelaku bisnis dalam satu event yang menggabungkan teknologi, seni, dan gaya hidup orang menikmati sajian suara musik yang kualitasnya sangat baik.

High-end audio adalah istilah sekaligus nama untu kategori perangkat yang dirancang untuk menghadirkan reproduksi suara sedekat mungkin dengan kejadian aslinya(sang artis seperti hadir bernyanyi di hadapan kita).

Sekumpulan kriteria dipenuhi seperti suara yang natural, detail, memiliki kedalaman ruang, dan mampu menyampaikan emosi musik secara utuh.

Maka untuk mencapainya, dibutuhkan perangkat yang dirancang dengan serius: yakni amplifier, speaker, hingga sumber audio, dengan kualitas konstruksi tinggi serta perhatian ekstrem pada detail seperti matching antar komponen dan akustik ruangan.

Pada level ini, perubahan kecil seperti kabel, posisi speaker, hingga kualitas rekaman dapat memberikan perbedaan signifikan.

Produk-produk ini umumnya tidak diproduksi massal, banyak yang dibuat dalam jumlah terbatas atau berbasis pesanan, hasil dari riset dan pengembangan yang panjang—yang pada akhirnya membuat harganya bisa sangat tinggi.

Di dalam JIAVS, produk tidak hanya dipamerkan tetapi juga didemokan secara langsung—sebuah pengalaman yang menjadi kunci dalam dunia high-end audio.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan talkshow, podcast bersama para ahli, kontes portable audio, hingga berbagai aktivitas hiburan.

Tak ketinggalan, kompetisi Sound Quality Car Audio turut meramaikan acara di area rooftop Fairmont Jakarta.

Menariknya, tidak hanya produk luar negeri yang tampil, tetapi juga karya produsen dalam negeri yang mulai menunjukkan kualitas dan identitasnya sendiri.

Pameran ini terselenggara berkat kolaborasi antara IHEAC dengan para distributor, didukung oleh berbagai mitra seperti Megapro Communications serta Blibli sebagai official payment partner, yang memberikan kemudahan transaksi dan berbagai keuntungan bagi pengunjung.

Kehadiran sponsor lain, termasuk brand kopi lokal, juga menambah suasana pameran menjadi lebih hangat dan santai.

Fenomena ini menjadi menarik karena di tengah perlambatan ekonomi global, industri high-end audio—yang dikenal sebagai niche market—tetap menunjukkan daya hidup.

Pergerakannya memang tidak terlepas dari faktor eksternal seperti kebijakan impor-ekspor, fluktuasi nilai tukar, pajak, hingga kondisi geopolitik dunia.

Namun di sisi lain, pasar ini memiliki karakter unik: konsumennya relatif loyal, berorientasi pada kualitas, dan tidak sepenuhnya sensitif terhadap harga.

Dalam lima tahun ke depan, secara global, sejumlah pengamat dan pelaku industri global sejauh yang penulis baca, melihat bahwa pasar high-end audio akan tetap bertahan, bahkan cenderung tumbuh perlahan.

Laporan dan ulasan dari media seperti What Hi-Fi? serta Stereophile menunjukkan adanya tren “back to quality listening”, di mana konsumen mulai kembali mencari pengalaman mendengarkan yang lebih serius di rumah, terutama pasca era streaming yang membuat akses musik semakin mudah tetapi sering kali mengorbankan kualitas.

Di Indonesia, tren ini diperkirakan akan mengikuti pola global dan bisa dilihat diantaranya melalui gairah di JIAVS ini.

Denyutannya tak bisa lepas dari bagaimana gambaran karakter lokal: yakni pertumbuhan kelas menengah atas, meningkatnya minat terhadap lifestyle premium, serta berkembangnya komunitas audiophile.

Belakangan ini yang terlihat tumbuh adalah bagaimana para anak muda pada gandrung akan turntable dan vinyl.

Ini turut menggairahkan pasar dunia audio stereo, walau masih sedikityang membeli produk yang kelasnya high end.

Beberapa pelaku industri juga melihat peluang pada integrasi antara teknologi digital (streaming, network player) dengan sistem high-end, sehingga lebih relevan bagi generasi baru.

Tantangan utamanya tetap pada regulasi impor, pajak, serta edukasi pasar yang masih terbatas.

Yup, dunia audio high end stereo kini wajahnya lebih banyak dihiasi oleh teknologi streaming audio, dengan memakai bahan dari file rekaman.

Salah satu alasannya, lebih mudah memainkannya, lebih ringkas dan dapat lebih portable. Resolusi file pun sudah tinggi.

Perlahan, produk high end audio juga telah dilahirkan oleh (masih) segelintir orang Indonesia, dengan memakai merk merk seperti Alexandria Audio, D’Audio, Vermouth Audio dan nama lainnya yang perlahan dikenal di luar neeeri juga.

Hawa segar tentu karena kecenderungan bahwa brand lokal mendapat tempat kian besar.

Dengan biaya produksi yang lebih kompetitif dan pemahaman terhadap selera pasar domestik, produsen Indonesia berpotensi menjadi pemain yang diperhitungkan—setidaknya di pasar regional.

Berharap Peran Pemerintah

Kalau dilihat secara realistis, masalah utama industri high-end audio bukan kurang minat—melainkan kurang dipahami.

Akan lebih baik tentu bila pemerintah/pengambil keputusan di negeri ini bisa fokus pada mengakui dulu bahwa ini industri bernilai, baru kemudian mendukungnya secara tepat.

Berikut poin yang paling relevan dan berdampak:

  • Perlakukan sebagai industri kreatif, bukan sekadar barang mewah
    High-end audio sering dianggap “luxury goods”, padahal di dalamnya ada riset akustik, engineering, desain industri, bahkan seni. Pendekatan kebijakan yang terlalu berbasis pajak barang mewah justru bisa menghambat pertumbuhan ekosistemnya.
  • Evaluasi kebijakan impor dan pajak
    Produknya ini seringkali perlu menghadapi lampu merah saat diimpor untuk dijual di Indonesia. Selain itu menurut pengakuan pebisnisnya kepada penulis, masih seringkali mereka menemukan kendala di pabean dan keruminta pengurusan dokumen. Belum lagi beban pajak terlalu tinggi atau prosesnya rumit, harga jadi tidak kompetitif dan pasar bergerak ke jalur informal. Regulasi yang lebih rasional bisa mendorong pasar resmi tumbuh dan meningkatkan penerimaan negara dalam jangka panjang.
  •  Dukung brand dan manufaktur lokal
    Dari sini kiranya pemerintah bisa membuat keputusan yang kondusif bagi kian tumbuhnya potensi seniman seniman pembuat produk audio high end khususnya. Dengan begitu, brand lokal bisa naik kelas, tidak hanya jadi pemain domestik. Misalnya dengan memberi insentif UMKM teknologi audio, akses pameran internasional dan sertifikasi kualitas.
  • Fasilitasi pameran dan ekosistem
    Event seperti JIAVS diatas, bukan sekadar jualan, tetapi menjadi juga sarana edukasi pasar, dapat menarik wisatawan/principal merk audio, dan membuka jaringan bisnis global
    Dukungan bisa berupa kemudahan perizinan, promosi pariwisata, atau kolaborasi lintas sektor.
  • Integrasikan dengan ekonomi digital dan kreatif. High-end audio bisa dikaitkan dengan industri musik, studio rekaman konten creator dan lain lain. Dengan kualitas audio yang baik, ekosistem kreatif Indonesia ikut terangkat.

Penutup
High-end audio memang niche market, dan hampir dipastikan bukan industri yang besar secara volume, tetapi ia kuat secara nilai dan loyalitas pasar.

Di tengah dinamika ekonomi global, sektor ini tetap bertahan karena menawarkan sesuatu yang tidak tergantikan: pengalaman mendengarkan musik yang autentik dan emosional.

Dengan dukungan komunitas, pameran seperti JIAVS, serta adaptasi terhadap teknologi baru, bisnis ini memiliki peluang untuk terus tumbuh—perlahan namun pasti—baik di dunia maupun di Indonesia – katakanlah dalam lima tahun ke depan. (LGS)

*Penulis adalah pehobi audio, jurnalis dan pemerhati stereo.