JAKARTA RAYA – Peringatan Hari Kartini tahun ini mendapat panggung internasional melalui penyelenggaraan acara bertajuk “Kartini Letters: A Spark in the Memory of the World” di kantor pusat UNESCO, Paris, pada 16 April 2026.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Kantor Wakil Tetap Republik Indonesia (KWRI) untuk UNESCO bersama Delegasi Tetap Kerajaan Belanda ini dihadiri sekitar 100 delegasi dari berbagai negara. Mereka memberikan apresiasi atas kontribusi pemikiran R.A. Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan gender.

Melalui surat-suratnya, Kartini tidak sekadar menuangkan refleksi pribadi, tetapi juga menyuarakan gagasan progresif tentang keadilan, pendidikan, serta emansipasi perempuan yang melampaui zamannya.

Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menegaskan bahwa Kartini adalah sosok visioner dengan pemikiran yang tetap relevan hingga kini.

“Kartini percaya bahwa pendidikan adalah fondasi emansipasi. Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga kunci pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga memiliki warisan intelektual yang mampu menginspirasi dunia.

Senada dengan itu, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO, Monique van Daalen, menilai surat-surat Kartini mencerminkan cara pandang maju tentang peran perempuan, khususnya dalam hal akses pendidikan dan kesetaraan gender—isu yang masih menjadi fokus utama UNESCO hingga saat ini.

Kolaborasi antara Indonesia dan Belanda dalam acara ini juga mencerminkan hubungan bilateral yang erat dan konstruktif, sekaligus memperkuat kerja sama kedua negara di bidang budaya dan pendidikan.

Acara dilanjutkan dengan diskusi buku The Most Beautiful Letters from Kartini bersama Lara Nuberg dan Feba Sukmana. Diskusi ini mengupas secara mendalam isi surat-surat Kartini, termasuk kritik terhadap kolonialisme serta berbagai pembatasan terhadap perempuan pada masanya.

Pendekatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih utuh dan autentik terhadap kompleksitas pemikiran Kartini, sekaligus menegaskan relevansinya dalam konteks global masa kini.

Salah satu peserta, Chyna Bong A Jan, menyebut Kartini sebagai pelopor feminisme yang inspiratif, terutama di tengah tantangan perjuangan hak perempuan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, para tamu juga disuguhkan pertunjukan seni budaya Indonesia berupa Tari Legong Kreasi Mahawidya serta alunan musik gamelan oleh seniman Prancis berbasis di Paris. Penampilan ini memperlihatkan eratnya hubungan antara budaya dan pendidikan dalam membangun identitas serta memperkuat dialog antarbangsa.

Momentum penting lainnya adalah pengakuan surat-surat Kartini dalam Memory of the World Register UNESCO pada 2025. Pengakuan ini menegaskan bahwa warisan intelektual Kartini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga kontribusi penting dalam diskursus global mengenai kesetaraan, pendidikan, dan hak asasi manusia.

Melalui kegiatan ini, Indonesia semakin mempertegas perannya dalam pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat diplomasi intelektual di tingkat internasional. (rw)