JAKARTA RAYA – Menjelang keberangkatannya melanjutkan studi ke Belanda, penerima Beasiswa Garuda LPDP, Azka Abdul Malik Albayroni, memilih langkah yang tidak biasa. Siswa SMA Pradita Dirgantara yang berhasil mengantongi 30 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas dunia itu menemui Menteri Transmigrasi untuk berdiskusi mengenai arah pembangunan Indonesia dan peran ilmu perencanaan wilayah dalam menjawab tantangan nasional.

Azka akan menempuh studi Human Geography and Planning di University of Amsterdam (UvA). Sebelum berangkat, ia ingin memastikan ilmu yang dipelajarinya kelak memiliki relevansi langsung bagi pembangunan Indonesia.

“Saya ingin memastikan ilmu yang saya pelajari relevan untuk pembangunan tanah air. Saya tidak ingin kembali hanya membawa gelar, tetapi solusi nyata,” ujar Azka.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana diskusi yang hangat. Menteri Transmigrasi memberikan berbagai pandangan strategis mengenai pemerataan pembangunan, tata ruang wilayah, hingga pengembangan sumber daya manusia sebagai fondasi Indonesia masa depan.

Salah satu pesan yang paling membekas bagi Azka adalah nasihat mengenai cara memandang perjalanan hidup dan pengabdian kepada bangsa.

“Azka, sebelum kamu belajar tentang ruang dan manusia di Belanda, ubah dulu pola pikirmu. Jangan pernah merasa dibuang. Jangan pernah merasa menjadi kuda pacuan yang hanya bisa berlari kencang tanpa arah. Jadilah kuda perang. Tahu kapan maju. Tahu kapan mundur. Tidak takut diam. Tidak takut omongan orang,” kata Menteri Transmigrasi.

Menurut Menteri, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak bisa disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan sumber daya yang berbeda sehingga kebijakan harus disusun sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

“Pembangunan Indonesia harus tailor-made sesuai karakter setiap daerah. Itu yang harus kamu pelajari di Belanda. Kamu harus memahami bagaimana menyesuaikan pendekatan dengan kondisi lokal,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri menjelaskan bahwa transmigrasi saat ini tidak lagi dimaknai sebagai program perpindahan penduduk semata. Ia memperkenalkan konsep Transmigrasi Patriot, yakni pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pengembangan kawasan.

Menurutnya, transmigran harus mampu membangun ekosistem ekonomi yang utuh, mulai dari proses produksi hingga pemasaran hasil usaha.

“Bayangkan jika transmigran hanya diberi rumah dan ladang. Setelah panen, mau ke mana? Tidak ada solusi. Usaha harus tuntas. Dari produksi hingga pemasaran. Itu yang harus kamu pahami dalam perencanaan wilayah,” jelasnya.

Ia menambahkan, tata ruang yang baik merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan sekaligus memperkuat persatuan nasional.

Menteri juga menyinggung pentingnya pembangunan kawasan pendidikan di luar Pulau Jawa melalui pengembangan kampus satelit di wilayah transmigrasi. Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi di daerah akan mempercepat lahirnya sumber daya manusia unggul yang dekat dengan berbagai persoalan masyarakat.

Selain itu, ia mengusulkan pendekatan baru dalam penyediaan hunian masyarakat, termasuk skema penyewaan rumah oleh pemerintah sebagai salah satu alternatif yang dinilai lebih efisien.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri menekankan bahwa proses belajar terbaik tidak hanya diperoleh melalui ruang kelas, tetapi juga melalui diskusi dengan berbagai kalangan.

Ia menceritakan pengalamannya berdialog dengan akademisi dari Columbia University serta sejumlah tokoh internasional yang memberinya perspektif baru mengenai kepemimpinan dan pembangunan.

Menteri juga mengangkat konsep strategi blitzkrieg atau perang kilat sebagai ilustrasi pentingnya kecepatan dalam pembangunan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap strategi harus disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

“Di Jerman tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia. Mengapa? Karena SDM yang bisa punya inisiatif itu berbeda. Kementerian Transmigrasi juga demikian. Kita butuh waktu untuk membangun kapasitas,” katanya.

Ia mendorong Azka memanfaatkan masa studinya di Belanda untuk mempelajari sejarah transmigrasi yang tersimpan di berbagai universitas di negara tersebut.

“Azka, saya ingin kamu mempelajari sejarah transmigrasi di Belanda. Banyak universitas di sana menyimpan sejarah itu. Pelajari itu. Ambil hikmahnya,” pesannya.

Menjelang akhir pertemuan, Menteri mengingatkan Azka agar tetap rendah hati selama menempuh pendidikan di luar negeri. Ia meminta Azka tidak mudah terlena oleh pujian maupun patah semangat karena kritik.

Menurutnya, generasi muda Indonesia harus memiliki integritas serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat.

“Kamu akan belajar di Eropa. Kamu akan melihat bagaimana negara maju mengelola ruang dan manusia. Tapi ingat, Indonesia punya 17 ribu pulau dan ribuan budaya. Tantangan kita berbeda. Tugasmu bukan hanya membawa gelar. Tugasmu pulang membangun Indonesia dari akar-akarnya. Belajarlah dari kesalahan kita. Perbaikilah. Jangan ulangi. Negeri ini menunggu solusi, bukan sekadar kembali,” tuturnya.

Bagi Azka, pertemuan tersebut menjadi bekal penting sebelum memulai perkuliahan di University of Amsterdam.

“Saya mendapat pemahaman baru tentang pembangunan Indonesia. Transmigrasi bukan sekadar memindahkan orang, tetapi menata kepadatan penduduk dan memberdayakan potensi daerah. Ini akan menjadi bekal berharga saat saya mempelajari perencanaan kota dan wilayah di Belanda,” ungkapnya.

Sementara itu, Rachma Fitriati, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia sekaligus ibu Azka, mengapresiasi kesediaan Menteri Transmigrasi meluangkan waktu berdiskusi dengan putranya.

Menurutnya, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa seorang pejabat negara tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga dapat menjadi mentor yang menginspirasi generasi muda untuk kembali mengabdi kepada bangsa setelah menempuh pendidikan di luar negeri.

Dalam waktu dekat, Azka akan berangkat ke Belanda untuk mempelajari hubungan antara manusia, ruang, dan kebijakan publik melalui program Human Geography and Planning di University of Amsterdam. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama studi dapat menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia yang lebih adil, merata, dan berkelanjutan. (hab)