JAKARTA RAYA- Kemudahan transaksi bagi para pelanggan/pengunjung maupun pedagang, sudah terjadi di Pasar Rawa Bening atau Jakarta Gems Center (JGC), Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, melalui penggunaan Payment Qris.

Seperti dialami pemilik Kios Metropolitan, Blok BKS 099, Lantai 1 Pasar Rawa Bening, Hendra Hermawan. Ia mengungkapkan, sebelum memakai pelayanan Payment Qris terkadang ada saja kendala ditemuinya.

Menurut dia, zaman sekarang ini sudah banyak pengunjung yang ke JGC yang tidak membawa uang cash, kalau pun bawa kemungkinan sekadarnya.

“Sebelum toko saya pakai Qris, pengunjung yang mampir ke toko saya kebanyakan gak bawa uang tunai, kala mereka mau bayar pakai Qris ketika itu tidak bisa. Padahal sudah deal tawar menawar harga, tapi pas transaksi mau bayar pakai Qris gak bisa, jadinya batal karena saya belum pakai Qris,” ungkap Hendra di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Senin (3/8).

Kemudian, lanjut dia, karena dia selalu menemui kendala, akhirnya dia dibantu oleh Kepala Pasar Rawa Bening, Pak Ahmad Subhan, untuk dibuatkan Qris.

Para Pedagang Jakarta Gems Center Kini Manfaatkan Pembayaran Melalui Qris

Pemilik Kios Metropolitan, Blok BKS 099, Lantai 1 Pasar Rawa Bening, Hendra Hermawan mengaku senang bertransaksi menggunakan pelayanan Payment Qris di Jakarta Gems Center (JGC), Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (3/8).

“Saya dibantu Pak Subhan, saat itu Pak kepala pasar menghubungi orang bank BNI, gak lama orang BNI datang langsung buatin Qris untuk toko saya, kini transaksi pembayaran jadi memudahkan saya,” katanya.

Dia katakan, termasuk wisatawan/orang asing yang saat jalan-jalan mampir berkunjung ke Pasar Rawa Bening itu, mereka tidak mau dibuat susah. Istilahnya mereka tidak mau dipersulit harus ke Money Changer untuk menukar mata uang Euro ke Rupiah.

“Kalau ada Qris orang asing senang, saya bilang ke mereka kenapa gak tukar mata uang rupiah di Money Changer. Kata mereka biar gak ribet, pakai Qris jadi memudahkan. Kalau tukar mata uang rupiah bawa uangnya jadi banyak, biar gak takut hilang atau lainnya, alasannya orang asing begitu,” ungkap Hendra, bapak beranak tiga.

Di satu sisi, melemahnya nilai mata uang rupiah justru menjadikan manfaat bagi para pedagang Pasar Rawa Bening. Karena jadi banyak turis mancanegara yang malah berkunjung dan berburu batu permata dan akik ke JGC.

“Perbandingannya 50 persen mereka turis lokal berburu permata dan 50 persen orang asing berburu batu akik asal Indonesia”.

Seperti halnya turis asal Norwegia, Jepang, Korea, China, Arab Saudi, Qatar, Oman, Australia, dan Rusia, senang berburu batu akik asli/asal Indonesia.

Era digital saat ini para pedagang pun mulai merambah berdagang batu permata dan akik pada e-commerce maupun media sosial.

Selain toko offline, Hendra katakan, dirinya juga membuka toko online melalui media sosial, agar juga memudahkan. Sehingga pembeli yang tidak sempat berkunjung ke JGC, mereka bisa langsung kontak ke WhatsApp.

Rata-rata pembeli turis lokal lebih condong membeli/berburu batu saphire, pirus, hingga ruby. Namun mereka orang asing lebih senang berburu asli batu dari Indonesia.

“Mungkin ada kebanggaan tersendiri bagi orang asing, jika pulang ke negara asalnya mereka senang menunjukkan batu asli nusantara asal Indonesia. Seperti batu akik pandan, kalsedon, batu gambar, bentuk angka 8, hingga batu akik untuk pajangan,” ungkap Hendra.

“Orang asing gak semua senang pakai cincin, senangnya paling cobocon, tapi liat batu dipajangan juga suka, menurut mereka suka batu yang pajangan enak dipandang mata, asli batu alami yang tidak digosok, kalau pun digosok palingan 50 persen dipoles saja.

Kalau catting orang asing gak suka, gak tahu juga alasannya, tapi katanya natural, mereka sangat menghargai alam,” tambah pria yang sejak tahun 2000 sudah berdagang batu permata dan akik di JGC.

Hendra berharap ke depan, meski dalam keadaan ekonomi saat ini, pasar batu permata dan akik di Indonesia ingin tetap stabil, dalam artian untuk kebutuhan keseharian dapat, untuk kewajiban sebagai pedagang juga ada terus.

“Inginnya mah perbatuan permata akik tetap stabil. Tapi kalau boleh lebih meningkat lagi,” harap Hendra.

Sementara, Kepala Pasar Rawa Bening, Ahmad Subhan menambahkan, saat ini di Pasar Rawa Bening, para pedagang memang sudah memanfaatkan pelayanan transaksi dengan Payment Qris. Hal itu guna mempermudah pengunjung dan masyarakat yang datang ke pasar JGC ini dalam melakukan transaksi.

“Dengan (transaksi) Payment Qris ini, pengunjung tak lagi direpotkan dengan pembayaran tunai. Gak perlu bawa uang terlalu banyak lagi,” ungkap Ahmad Subhan, Senin (3/8).

Tidak hanya konsumen, para pedagang di Pasar Rawa Bening juga sudah memahami manfaat dari menggunakan pelayanan Payment Qris. Sejauh ini, membantu transaksi di pasar JGC ini. Baik lokal, maupun turis mancanegara juga sudah memanfaatkan pembayaran dengan Qris.

“Saya harapkan pedagang dapat memanfaatkan pembayaran nontunai (Qris) untuk transaksi ke depannya, sehingga menjadikan contoh bagi pedagang lainnya yang belum menggunakan Qris. Memudahkan transaksi intinya,” katanya.

Dia menambahkan, saat ini sudah ada sekitar 90 persen pedagang di Pasar Rawa Bening yang sudah memanfaatkan pelayanan Qris.

“Jumlahnya ada sekitar 500 pedagang pakai layanan Qris dari berbagai macam bank yang sudah kerja sama dengan Perumda Pasar Jaya,” bebernya.

Sejauh ini tentunya transaksi Qris sudah diterapkan dan menjadi salah satu Program Perumda Pasar Jaya, ke depan Jakarta akan menjadi Kota global. Diperlukan inovasi, pedagang pasar juga dirasa perlu menggunakan transaksi digital nontunai ini.

“Bayar tunai tetap bisa, tapi mungkin kalau harga batu permata-akik kisaran di bawah Rp 1 juta bisa dilakukan, tapi kalau kisaran harga batunya lebih dari Rp 1 juta lebih baik gunakan nontunai, demi menjaga keamanan dan kenyamanan konsumen sendiri,” tutup Subhan.(hab)