JAKARTA RAYA – Pasar perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Meningkatnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor turut mendorong hadirnya berbagai perangkat pintar yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk AI smart glasses atau kacamata pintar berbasis AI.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Digital Transformation Indonesia (DTI) Series 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, pada 5–6 Agustus 2026. Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, ajang ini menghadirkan empat sub-event, yakni DTI-CX, DCTI-CX, DTI-HR, dan Cyber Resilience & Defense (CRD-CX), serta mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, dan penyedia teknologi dari 16 sektor strategis.

Di tengah berkembangnya pasar tersebut, PT Denka Pratama Indonesia sebagai distributor tunggal AI smart glasses merek Rokid di Indonesia menilai bahwa pertumbuhan industri harus diimbangi dengan kepatuhan terhadap regulasi, perlindungan data pribadi, serta edukasi kepada masyarakat.

Chief Marketing Officer (CMO) PT Denka Pratama Indonesia, Bagus Widyanto Putra, mengatakan perangkat AI wearable memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, menurutnya, keamanan dan legalitas produk harus menjadi perhatian utama.

Bagus menjelaskan bahwa seluruh perangkat elektronik berbasis AI yang dipasarkan di Indonesia seharusnya memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk memiliki sertifikasi dari Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Ia mengungkapkan bahwa AI smart glasses Rokid yang dipasarkan Denka Pratama Indonesia telah memperoleh sertifikasi tersebut sehingga dapat dipasarkan secara resmi di Indonesia.

Menurut Bagus, masyarakat perlu lebih cermat sebelum membeli perangkat AI wearable. Selain memastikan produk memiliki sertifikasi resmi, pengguna juga perlu memperhatikan sistem keamanan perangkat serta kebijakan perlindungan data yang diterapkan oleh produsen.

“Pengguna jangan hanya melihat fitur atau kecanggihan teknologinya, tetapi juga memastikan perangkat tersebut legal digunakan di Indonesia serta memiliki perlindungan terhadap data pribadi,” ujarnya.

Seiring semakin populernya AI smart glasses, isu privasi juga menjadi perhatian penting. Bagus menilai perangkat yang dilengkapi kamera dan mikrofon harus memiliki mekanisme yang mampu melindungi privasi pengguna maupun orang di sekitarnya.

Salah satunya adalah melalui indikator visual yang akan menyala ketika kamera digunakan untuk merekam. Dengan demikian, aktivitas perekaman dapat diketahui oleh orang lain sehingga penggunaan perangkat menjadi lebih transparan.

Selain itu, ia menilai sistem operasi perangkat AI wearable harus memiliki perlindungan terhadap praktik modifikasi ilegal atau jailbreak yang berpotensi membuka celah keamanan dan membahayakan data pengguna.

“Keamanan siber menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan perangkat AI wearable. Karena itu, produsen perlu memastikan perangkat yang dipasarkan memiliki sistem keamanan yang kuat,” katanya.

Bagus melihat perkembangan teknologi AI global telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan kecerdasan buatan. Jika sebelumnya AI lebih banyak diakses melalui komputer atau smartphone, kini teknologi tersebut mulai hadir dalam berbagai perangkat yang dikenakan pengguna.

Integrasi teknologi Large Language Model (LLM) ke dalam perangkat wearable dinilai akan membuat pengalaman menggunakan AI menjadi lebih praktis dan alami.

“Selama ini orang menggunakan AI melalui smartphone atau laptop. Ke depan, kami melihat kecenderungan interaksi dengan AI yang semakin menyatu dengan aktivitas sehari-hari melalui perangkat yang dikenakan,” jelas Bagus.

Menurutnya, AI smart glasses memiliki potensi dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, mulai dari profesional, pebisnis, traveler, kreator konten, hingga masyarakat umum yang membutuhkan akses AI secara cepat tanpa harus bergantung pada perangkat konvensional.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap AI wearable, Denka Pratama Indonesia berkomitmen memperkuat literasi digital melalui berbagai kegiatan edukasi.

Program tersebut akan dilakukan melalui workshop, demonstrasi produk, hingga kolaborasi dengan komunitas teknologi agar masyarakat memahami manfaat, cara penggunaan, serta risiko yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan perangkat AI.

Bagus menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus dibarengi dengan pemahaman yang baik dari pengguna agar adopsi AI di Indonesia dapat berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.

“Minat masyarakat terhadap AI terus meningkat. Yang terpenting bagi kami adalah memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang tepat sebelum mengadopsi teknologi ini, terutama dari sisi keamanan dan legalitas produk,” tutupnya. (Hab)