JAKARTARAYA-

Mendekati bulan Ramadhan, harga beras kian meroket. Pedagang beras pun khawatir bila harga naik saat permaintaan semakin banyak, namun di sisi lain stoknya terbatas.
Ketua Umum ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri mengatakan, saat ini pedagang mengalami kesulitan mencari pasokan beras. Itu disebabkan belum petani belum masa panen, sehingga pasokan di penggilingan juga minim.
“Bukan ada potensi lagi, sangat berpotensi Ramadan ini kita bisa mengalami persoalan beras yang kedua. Karena apa? Karena kita akan panen raya mundur, paling April, bahkan bisa setelahnya,” ujar Mansuri, dikutip.
“Nyari barangnya (beras) sulit, karena memang barangnya nggak ada, dari penggilingan nggak ada, dari pabrik lokal nggak ada. Harganya juga sudah tinggi,” sambungnya.
Ia menjelaskan, harga beras medium di pasar mencapai Rp 13.000-14.000/kg, sedangkan jenis premium mencapai Rp 18.000/kg.
“(Beras) yang medium memang ada yang masih Rp 13.000, ada Rp 14.000, ada juga yang jual 15.000. Tetapi akumulasinya sekitar Rp 14.000. Kalau premium, kalau lokal, itu di atas Rp 16.000, Rp 17.000 dan ada yang jual Rp 18.000. Rata-rata (beras premium) kalau diakumulasi Rp 16.000 sampai Rp 17.000/kg,” ungkap dia.
“Ini (harga beras premium) tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Belum pernah terjadi dalam sejarah harga beras Rp 18.000, belum pernah. Harga beras itu Rp 8.000, Rp 9.000, tertinggi Rp 10.000,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menerangkan bahwa saat ini harga gabah sudah mencapai level Rp 8.000/kg, maka jika setara beras harganya Rp 16.000/kg. Tentu angka itu memang jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) baik jenis medium Rp 10.900/kg dan premium Rp 13.900/kg.
“Kalau sekarang kan harga gabah Rp 8.000/kg, maka secara mudah beras Rp 16.000/kg, udah pasti. Kalau harga gabahnya Rp 5.000/kg beras Rp 10.000/kg. Tahun lalu Rp 6.000/kg harga beras Rp 12.000/kg,” tuturnya dikutip detikcom.
Ia memaparkan, kenaikan harga beras bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena kebutuhan biaya produksi seperti pupuk meningkat akibat perang Rusia dan Ukraina.
“Seluruh dunia juga tinggi, jadi ini nih global. Kondisi hari ini kondisi global juga demikian. Di seluruh dunia dalam pertanian perlu pupuk nggak? Ukraina masih perang, terganggu pasokan pupuk nggak? Kalau terganggu harga pupuk naik atau turun? Kalau harga pupuk naik, harga pertanian bukan hanya beras, tetapi jagung, dan lainnya naik nggak? Nah,” terang dia.
Oleh sebab itu, jika masyarakat ingin mendapatkan beras yang terjangkau dan tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET), maka bisa membeli beras Bulog Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) seharga Rp 10.900/kg atau Rp 54.500 per 5 kg.
Selain itu, beras-beras premium merek lainnya juga diyakini sudah mulai masuk ritel dengan harga Rp 13.900/kg. Biasanya beras di ritel dikemas dengan ukuran 5 kg-an.
“Di modern market itu kan sesuai HET Rp 13.900/kg, dan SPHP Rp 10.900/kg. Itu sudah banyak loh masuk ke ritel-ritel modern, seluruh Indonesia,” jelas Arief. (jr)