JAKARTA RAYA – CORE Indonesia menggelar seminar dan diskusi publik bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi” di CORESight Hub, Selasa (20/1/2026).

Diskusi ini menyoroti perlunya strategi komprehensif dalam tata kelola pangan untuk menghadapi tantangan domestik dan global, termasuk risiko iklim, penguatan sistem pangan lokal, dan pengembangan rantai nilai nasional.

Ketahanan Pangan Lebih dari Produksi

Dr. Etika Karyani, Direktur Riset CORE Indonesia, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produktivitas pertanian, tetapi juga mencakup ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, dan stabilitas pangan.

Pemerintah menyiapkan strategi intensifikasi lahan, ekstensifikasi, kebijakan pupuk subsidi, regenerasi petani, dan peningkatan kualitas varietas benih. Sugeng Harmono, Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kemenko Pangan RI, menyebut target 2026 meliputi penyerapan padi 4 juta ton serta produksi kedelai dan bawang putih. Roadmap swasembada bawang putih ditargetkan pada 2029.

Daerah rawan bencana menjadi perhatian khusus dengan pembentukan satgas rehabilitasi untuk memastikan distribusi pangan tetap lancar.

Diversifikasi Pangan Lokal

CORE menekankan pentingnya diversifikasi pangan melalui pangan lokal. Prof. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB, menegaskan perlunya investasi pemerintah untuk mendukung diversifikasi. Eri Prabowo, Dirut PT Berkah Inti Daya, menyarankan pengembangan pertanian Sorgum sebagai alternatif yang lebih mudah dibudidayakan dibanding padi.

Pemerintah juga mendorong cadangan pangan lokal melalui Perpres No. 81/2024. Meski prospeknya baik, banyak pangan alternatif memiliki harga tinggi dan kuantitas terbatas, sementara padi dan gandum tetap unggul dari sisi gizi.

Realitas Swasembada Pangan Indonesia

Menurut Prof. Dwi Andreas, Indonesia belum sepenuhnya swasembada pangan. Banyak komoditas masih bergantung pada impor, seperti gandum, bawang putih, kedelai (97%), susu (82%), gula (70%), daging sapi/kerbau (50%), jagung (10%), dan beras (5%). Total impor 12 komoditas mencapai sekitar 25 juta ton pada 2025.

Produktivitas pangan menjadi kendala utama. Padi stagnan selama hampir 15 tahun terakhir dan tertinggal dibanding Vietnam. Meski beras sempat swasembada pada 2025, El-Nino diperkirakan menurunkan produksi beras 5% pada 2026.

Tata Kelola Pangan Berbasis Data dan Akademik

Prof. Dwi Andreas menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan sains. Program seperti swasembada bawang putih dan Food Estate dinilai tidak feasible dari sisi geografis dan lahan. Kekeliruan data dapat memicu respons pasar negatif, contohnya harga beras naik meski stok tinggi karena kebijakan penyerapan “at any quality” oleh Bulog.

Tujuh Rekomendasi Strategis CORE untuk 2026:

  1. Kebijakan berbasis fakta: data akurat, prakiraan pasar, dan analisis dampak.
  2. Kebijakan perdagangan tepat dan berhati-hati membaca sinyal pasar.
  3. Subsidi pangan, input, dan pendapatan disasar efektif untuk menghindari pemborosan fiskal.
  4. Investasi infrastruktur dan rantai pasok kompetitif untuk meningkatkan pasokan.
  5. Manajemen risiko: prakiraan pasar, informasi cuaca, R&D teknologi.
  6. Pengelolaan stok pangan pemerintah bebas intervensi.
  7. Perbaikan kerja sama publik-swasta untuk menurunkan konflik dan meningkatkan kepercayaan. (hab)