JAKARTA RAYA – Transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan mulai bergeser ke tingkat komunitas. Institut Teknologi PLN (ITPLN) melalui Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pascasarjana mengimplementasikan teknologi kompor biomassa di Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, Bogor, sebagai solusi efisiensi energi sekaligus pengurangan emisi karbon.

Program ini dipimpin Ketua Tim PKM Pascasarjana ITPLN, Dr. Dhami Johar Damiri, dosen Program Studi Magister Teknik Elektro ITPLN, bersama I Made Indradjaja, Dr. Eng. Marwan Rosyadi, dan Martin Choirul Fattah.

Menurut Dhami, dapur pesantren yang melayani ratusan hingga ribuan santri selama ini sangat bergantung pada LPG, yang harganya terus meningkat dan menekan biaya operasional.

“Padahal, setiap hari pesantren menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar. Melalui kompor biomassa, limbah tersebut dapat diolah menjadi sumber energi terbarukan yang murah dan ramah lingkungan,” kata Dhami, Kamis (15/1/2026).

Ia menegaskan, pemanfaatan biomassa merupakan bagian penting dari agenda transisi energi nasional, terutama di sektor rumah tangga dan komunitas.

“Transisi energi tidak selalu harus berbasis teknologi mahal. Teknologi tepat guna seperti kompor biomassa justru relevan diterapkan di level akar rumput, termasuk pesantren,” ujarnya.

Dalam program tersebut, tim PKM Pascasarjana ITPLN memberikan pelatihan dan pendampingan pengolahan sampah organik menjadi bahan bakar biomassa serta penggunaan kompor biomassa untuk kebutuhan dapur pesantren.

Hasil implementasi menunjukkan efisiensi yang signifikan. Biaya bahan bakar dapat ditekan hingga 56 persen, dari sebelumnya setara Rp3.840 per kilogram bahan bakar fosil menjadi sekitar Rp1.680 per kilogram biomassa.

Selain transfer teknologi, tim PKM juga menyerahkan 10 unit kompor biomassa, modul pelatihan, serta membentuk tim pengelola teknologi di lingkungan pesantren. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan literasi energi terbarukan di kalangan santri sekaligus memperkuat peran pesantren dalam isu lingkungan dan keberlanjutan.

Dhami menilai pesantren memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam mendorong transisi energi berbasis masyarakat.

“Jika pesantren mampu mandiri energi dan mengelola limbah secara berkelanjutan, ini dapat menjadi model nasional yang direplikasi di berbagai daerah,” tuturnya.

Ke depan, program ini ditargetkan menjadi contoh penerapan dapur ramah lingkungan yang mampu menekan emisi karbon, mengurangi limbah organik, serta mendukung agenda transisi energi yang berkeadilan hingga tingkat komunitas. (hab)