JAKARTA RAYA – Banjir kembali merendam permukiman warga di RW 07 Makasar, Jakarta Timur, dengan ketinggian air mencapai sebetis orang dewasa. Warga menilai kondisi ini semakin parah akibat pembuangan air dari kawasan Tipala yang mengalir langsung ke wilayah mereka.
Genangan air terjadi di sejumlah titik, terutama di RT 05, 06, 07, 08, dan 09. Air bahkan sudah masuk ke dalam rumah warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Air sudah masuk ke dalam rumah, bahkan di rumah Ketua RT 07 sudah setinggi betis. Kondisi ini sangat meresahkan warga,” ujar Ketua RT 07, Tumpal.
Warga mengungkapkan bahwa di kawasan Tipala saat ini sudah berdiri rumah pompa air Sub Folder SDA. Namun, keberadaan fasilitas tersebut justru dinilai memperparah kondisi banjir di RW 07 karena aliran pembuangan air mengarah ke wilayah mereka.
“Rumah pompa sudah ada, tapi turap di wilayah kami belum semua dibangun. Akibatnya, air buangan dari Tipala langsung masuk ke permukiman warga,” kata tokoh masyarakat, Sangadi.
Menurutnya, seharusnya pembangunan turap dilakukan terlebih dahulu untuk menahan dan mengatur aliran air agar tidak berdampak ke wilayah lain.
“Harusnya ada perencanaan yang matang. Jangan sampai satu wilayah dikeringkan, tapi wilayah lain malah kebanjiran,” tegasnya.
Ketua RW 07, Nyoto, juga menyoroti kondisi tersebut. Ia mengatakan, sejak adanya pintu air dan sistem pompa di Tipala, wilayahnya justru lebih sering terendam banjir.
“Sejak ada pintu air dan pembuangan dari Tipala, RW 07 jadi langganan banjir. Kami mohon ada solusi dari pihak SDA,” ujar Nyoto.
Warga juga mengeluhkan kondisi saat pompa masih tetap beroperasi meskipun wilayah Tipala sudah kering. Hal ini menyebabkan air terus dialirkan ke wilayah RW 07.
“Di Tipala sudah kering, tapi mesin pompa masih menyala dan air tetap dibuang ke sini. Ini yang membuat banjir makin parah,” keluh warga.
Ketua RT 06, H. Tugino, menilai sistem yang ada saat ini tidak efisien dan justru merugikan warga RW 07.
“Pompa itu mempercepat kering di wilayah lain, tapi mempercepat banjir di wilayah kami. Ini tidak adil bagi warga,” katanya.
Ia menegaskan bahwa selama turap belum dibangun, wilayah RW 07 akan terus menjadi daerah terdampak setiap kali terjadi hujan dan peningkatan debit air.
“Selama belum ada turap, air dari Tipala pasti dibuang ke Kali Cipinang dan imbasnya ke RW 07. Kami yang selalu kena dampaknya,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, mulai dari evaluasi sistem pembuangan air hingga percepatan pembangunan turap di wilayah mereka.
“Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar janji. Jangan sampai RW 07 terus menjadi korban sistem yang tidak tepat,” tegas warga.
Hingga kini, warga RW 07 Makasar masih menunggu tindakan cepat dari pihak terkait agar banjir yang semakin parah ini dapat segera diatasi.


Tinggalkan Balasan