JAKARTA RAYA – Perumda Dharma Jaya bersama Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) menggelar bazar daging murah untuk warga sekolah.

Perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta itu menjual aneka paket daging sapi dan ayam. Bazar digelar di SMAN 53 Jakarta, pada Jumat 13 Maret 2026.

Pengunjung bazar adalah para guru, staf tata usaha sekolah, komite sekolah, dan para siswa. Tak hanya dari SMAN 53 Jakarta, tapi juga dari SMAN 11 Jakarta.

Daging untuk Kebutuhan Lebaran

Kepala SMAN 53 Jakarta, Herawati Sihombing, M.Pd, mengatakan terima kasih kepada Dharma Jaya dan GPIB atas terselenggaranya bazar daging murah tersebut.

“Bazar daging murah ini diselenggarakan dalam rangka menyambut lebaran Idul Fitri 2026. Semoga dengan adanya bazar ini dapat membantu meringankan para guru dan warga sekolah dalam memperoleh daging untuk kebutuhan lebaran,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum DPP GPIB, Ir. Agung Karang. Ia menegaskan bahwa daging sapi yang dihadirkan di Bazar merupakan daging sapi impor dari Australia.

Daging Segar dari Australia

Sementara Ketua Satgas GPIB Peduli, Miftahur Rahman, menjelaskan bahwa daging sapi yang dijual dalam Bazar tersebut merupakan daging segar.

“Meski impor, ini daging segar. Karena pihak Dharma Jaya mengimpor dari Australia dalam bentuk sapi hidup. Tidak seperti daging frozen lainnya, yang diimpor sudah dalam bentuk daging beku,” ujarnya.

Sebelumnya, Perumda Dharma Jaya telah mendatangkan 590 ekor sapi dari Australia. Kedatangan sapi tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Jakarta, Pramono Anung, di Pelabuhan Tanjung Priok, pada Senin (23/2/2026) lalu.

“Memang kalau untuk yang ini saat ini kan kita turun 590 ekor, tapi stok di tempat kita itu sekarang ada 1.500-an. Jadi itulah yang akan kita gunakan untuk Ramadhan ini,” ujar Pramono saat itu.

Selain impor, Pemprov DKI juga menyiapkan rencana jangka menengah berupa pengelolaan lahan pakan untuk penggemukan sapi.

Pramono menegaskan, impor dilakukan karena pasokan dari daerah dalam negeri belum mencukupi kebutuhan Jakarta.

“Sebenarnya kita pemerintah pusat pada waktu itu sudah menyiapkan untuk sapi ini bisa dari NTT juga tapi kenyataannya memang masih kurang sehingga dengan masih kurang itu harus impor dari luar. Kalo nggak harganya pasti akan naik tinggi,” ujarnya.

Pramono memastikan sapi impor yang masuk dalam kondisi sehat dan bebas penyakit mulut dan kuku.

“Yang dari Australia ini kondisinya sehat karena tidak ada indikasi sakit di istilahnya apa? Mulut dan Kuku. PMK penyakit mulut dan kuku nggak ada,” tegas Pramono. (MAN)