JAKARTA RAYA – Persaingan global antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam memperebutkan energi dan mineral kritis kian meluas, hingga ke Kolwezi, wilayah tambang strategis di Republik Demokratik Kongo.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada ekonomi global, tetapi juga memicu persoalan sosial serius, mulai dari penggusuran warga hingga meningkatnya angka putus sekolah.
Presiden Still I Rise, Nicolò Govoni, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 251 juta anak di dunia tidak mengakses pendidikan. Bahkan, lebih dari 70 persen anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah belum memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis.
“Masalahnya bukan hanya akses ke sekolah, tetapi juga kualitas pendidikan,” ujarnya.
Laporan investigasi bertajuk Il Prezzo del Progresso (Harga dari Sebuah Kemajuan) mengungkap bahwa sistem konsesi pertambangan di Kolwezi berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Wilayah ini menyumbang lebih dari 70 persen produksi kobalt dunia, mineral penting untuk baterai lithium-ion, kendaraan listrik, hingga teknologi digital dan pertahanan.
Namun di balik peran strategis tersebut, aktivitas pertambangan justru memicu berbagai persoalan sosial. Mulai dari penggusuran paksa rumah dan sekolah, meningkatnya angka putus sekolah, hingga kerentanan terhadap pekerja anak.
Petugas advokasi Still I Rise, Fatima Burhan Mohamed, menyebut bahwa persaingan global kini tidak lagi hanya soal minyak, tetapi telah bergeser ke penguasaan rantai pasok mineral kritis.
“Pertarungan ini menentukan otonomi industri dan teknologi masa depan,” ujarnya.
Saat ini, sekitar 80 persen produksi kobalt industri di wilayah Lualaba terafiliasi dengan investasi dari Tiongkok. Dominasi ini diperkuat melalui penguasaan tambang dan infrastruktur pemurnian.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus memperkuat pengaruhnya melalui kerja sama strategis dengan pemerintah Kongo guna mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok Tiongkok.
Salah satu titik krusial adalah konsesi tambang milik Chemaf yang kini menjadi incaran investor global. Perubahan kepemilikan konsesi ini dinilai berpotensi mengubah peta kekuatan industri kobalt dunia.
Pendiri Still I Rise, Giulia Cicoli, menegaskan bahwa dinamika industri ini berdampak langsung pada masyarakat lokal.
“Keputusan industri seperti ini bisa memengaruhi stabilitas tempat tinggal dan kehidupan warga, termasuk akses pendidikan,” jelasnya.
Di tengah dinamika tersebut, konflik geopolitik di Iran juga menjadi bagian dari persaingan global. Sebagai eksportir minyak utama dan pemasok penting bagi Tiongkok, stabilitas Iran berpengaruh besar terhadap keamanan energi global.
“Gangguan terhadap Iran berarti memengaruhi salah satu pilar utama keamanan energi Tiongkok,” tambah Fatima.
Di Republik Demokratik Kongo, dampak sosial dari aktivitas tambang semakin nyata. Sekitar 70 persen keluarga yang tinggal di wilayah konsesi tidak memiliki dokumen kepemilikan tanah, sehingga rentan terhadap penggusuran.
Selain itu, tingginya biaya untuk memperoleh sertifikat kepemilikan membuat sebagian besar masyarakat tidak memiliki perlindungan hukum yang memadai, terutama di tengah kondisi di mana mayoritas penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
“Ketika sebuah keluarga tidak memiliki hak milik yang diakui negara, maka keberadaan mereka menjadi sangat rentan,” ujar Giulia.
Ia menambahkan, ketidakpastian tempat tinggal berdampak langsung terhadap pendidikan anak, mulai dari putus sekolah hingga meningkatnya risiko eksploitasi.
“Jika rumah bisa hilang dalam semalam, maka hak atas pendidikan pun menjadi tidak pasti,” pungkasnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa persaingan global atas sumber daya tidak hanya berdampak pada ekonomi dan politik, tetapi juga menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu hak atas tempat tinggal dan pendidikan. (rw)


Tinggalkan Balasan