JAKARTA RAYA – Upaya menjadikan perguruan tinggi sebagai motor transisi energi tidak cukup hanya dengan memasang panel surya. Prof. Syamsir Abduh, Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), menegaskan bahwa transformasi energi di lingkungan kampus membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Menurut Syamsir, terdapat empat faktor utama yang menentukan keberhasilan kampus dalam menjalankan transisi energi, mulai dari kepemimpinan hingga sistem monitoring yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
1. Kepemimpinan Kuat Jadi Fondasi
Faktor pertama adalah komitmen kepemimpinan. Tanpa dukungan penuh dari pimpinan kampus, berbagai inisiatif energi bersih berpotensi berjalan parsial dan tidak berkelanjutan.
“Kepemimpinan menjadi penggerak utama. Rektor dan jajaran, termasuk pembina institusi, harus menjadikan transisi energi sebagai agenda strategis, bukan sekadar proyek simbolik,” ujar Syamsir, Senin (4/5/2025).
2. Keputusan Berbasis Data Energi
Faktor kedua adalah pengambilan keputusan berbasis data. Dalam perspektif kelistrikan, data konsumsi energi, profil beban, serta potensi energi terbarukan menjadi dasar penting dalam perencanaan.
Tanpa data yang akurat, kebijakan energi dinilai berisiko tidak tepat sasaran dan sulit dioptimalkan.
3. Integrasi Teknologi, Kebijakan, dan Pembiayaan
Faktor ketiga adalah integrasi antara aspek teknik, kebijakan, dan keuangan. Syamsir menekankan pentingnya sinkronisasi antara pengembangan teknologi, kurikulum hijau, serta kesiapan pendanaan.
“Sering kali proyek energi gagal bukan karena teknologinya, tetapi karena tidak sinkron dengan kebijakan dan kemampuan finansial institusi,” jelasnya.
4. Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan
Faktor keempat adalah sistem pemantauan dan peningkatan berkelanjutan. Dalam sistem energi modern, monitoring menjadi elemen krusial untuk memastikan efisiensi dan keandalan.
Evaluasi berkala juga diperlukan agar strategi yang diterapkan tetap relevan dengan perkembangan teknologi energi terbarukan.
Kampus sebagai Laboratorium Transisi Energi
Syamsir menegaskan bahwa transisi energi di kampus merupakan perubahan sistemik yang melibatkan teknologi, kebijakan, perilaku, dan pembiayaan secara terintegrasi.
“Ini bukan sekadar instalasi perangkat, tetapi perubahan sistemik yang melibatkan seluruh ekosistem kampus,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pengguna energi bersih, tetapi juga berperan sebagai laboratorium hidup yang menghasilkan inovasi serta sumber daya manusia unggul di bidang transisi energi. (hab)


Tinggalkan Balasan