Oleh: Rieska Wulandari dari Bologna, Italia

JAKARTA RAYA – Seni tidak sekadar merekam perubahan zaman, tetapi juga menata ulang cara manusia memandangnya. Di tengah lanskap industri modern, keindahan dapat lahir dari struktur besi, beton, hingga ritme mekanis yang sering kali luput dari perhatian.

Hal itulah yang dihadirkan MAST Foundation melalui pameran fotografi monumental yang menampilkan lebih dari 300 mahakarya hitam-putih, arsip gambar, buku, dan dokumen autentik karya duo legendaris Bernd Becher dan Hilla Becher.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi bersama Photographische Sammlung/SK Stiftung Kultur dan Bernd & Hilla Becher Studio di Düsseldorf. Kurasi dilakukan oleh Gabriele Conrath-Scholl, Max Becher, dan Urs Stahel, menghadirkan retrospektif mendalam mengenai perjalanan artistik pasangan pionir dari Düsseldorf School tersebut.

Melalui pendekatan visual yang presisi, Bernd dan Hilla Becher mengubah arsitektur industri menjadi puisi visual yang sunyi namun penuh makna. Menara air, pabrik, tungku baja, hingga bangunan industri lain dipotret dengan komposisi konsisten dan estetika minimalis yang kemudian mengubah sejarah fotografi kontemporer dunia.

Di ruang-ruang pameran MAST, pengunjung diajak menyelami hubungan intim antara manusia, industri, dan lanskap urban. Setiap karya seolah menegaskan bahwa industri bukan hanya simbol produksi dan mesin, melainkan juga bagian dari identitas budaya modern.

Perjalanan artistik ini berlangsung di MAST atau Manifattura di Arti, Sperimentazione e Tecnologia, sebuah pusat budaya unik di Bologna yang menggabungkan seni, teknologi, inovasi, dan kesejahteraan korporat dalam satu ekosistem.

MAST lahir dari visi Isabella Seràgnoli, Presiden Coesia, perusahaan global di bidang teknologi dan mesin pengemasan otomatis. Di bawah kepemimpinannya, MAST berkembang menjadi salah satu tolok ukur internasional dalam membangun dialog antara dunia industri dan seni kontemporer.

Bagi Isabella Seràgnoli, industri tidak seharusnya dipandang sebagai ruang dingin yang dipenuhi mesin semata. Melalui pendekatan filantropi budaya, ia menghadirkan konsep corporate welfare yang menempatkan manusia, kreativitas, dan kualitas hidup sebagai bagian penting dari perkembangan industri modern.

Lahir di Bologna pada 1945, Isabella dikenal sebagai salah satu perempuan terkaya di Italia sekaligus figur yang sangat menjaga privasi. Meski memimpin konglomerasi bernilai miliaran dolar, ia aktif mendukung berbagai program sosial dan kesehatan, termasuk pembangunan pusat perawatan kanker gratis Hospice Seràgnoli.

Dedikasinya terhadap kemanusiaan dan budaya membuat Universitas Bologna menganugerahinya gelar Laurea ad Honorem sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya bagi masyarakat.

Melalui MAST, Isabella Seràgnoli membuktikan bahwa seni dan industri bukanlah dua dunia yang bertolak belakang. Keduanya justru dapat berjalan harmonis, menciptakan ruang refleksi tentang manusia, kerja, teknologi, dan masa depan peradaban modern. (***)