JAKARTA RAYA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat implementasi Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA) sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Pada 2026, program tersebut dikembangkan melalui pendekatan Teacher Experimental Training (TET) berbasis mata pelajaran agar pelatihan lebih aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di kelas.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, mengatakan penguatan PMKKA merupakan kelanjutan dari tahap awal program yang sebelumnya berfokus pada persiapan dan uji coba (piloting). Tahun ini, pemerintah menitikberatkan implementasi program di lingkungan sekolah.

“Jika pada tahap awal kami berfokus pada penyiapan dan piloting, tahun ini fokus utama kami adalah memperkuat implementasi PMKKA berbasis mata pelajaran,” ujar Nunuk saat peluncuran Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial di Jakarta, Rabu (9/7/2026).

Menurut Nunuk, melalui metode Teacher Experimental Training (TET), sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar bagi peserta didik, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi para guru untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, guru akan mengikuti pelatihan sesuai bidang studi yang diampu. Setelah memperoleh materi, mereka langsung menerapkannya di kelas, kemudian melakukan evaluasi dan refleksi bersama pada sesi berikutnya.

“Guru matematika akan belajar bersama guru matematika, guru Bahasa Indonesia bersama guru Bahasa Indonesia. Setelah pelatihan, mereka langsung mengimplementasikan materi di kelas, kemudian pada pertemuan berikutnya melakukan refleksi atas hasil pembelajaran,” jelasnya.

Ia menegaskan, pendekatan tersebut dirancang agar konsep Pembelajaran Mendalam tidak berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Pembelajaran Mendalam mengedepankan tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta memanfaatkan teknologi secara bijak.

“Kami ingin memastikan filosofi Pembelajaran Mendalam yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan benar-benar diterapkan di ruang-ruang kelas, bukan hanya menjadi konsep di atas kertas,” kata Nunuk.

Untuk memastikan pelaksanaan program berjalan berkelanjutan, Kemendikdasmen akan melibatkan berbagai komunitas belajar guru, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pendampingan pelatihan dilakukan oleh Fasilitator Nasional serta Fasilitator Kelompok Kerja Berbasis Mata Pelajaran yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Pelatihan akan dilaksanakan secara rutin melalui Hari Belajar Guru, yang menjadi wadah peningkatan kapasitas pendidik di sekolah.

Selain pelatihan tatap muka, Kemendikdasmen juga memperluas akses melalui Fitur Pelatihan Mandiri pada platform Ruang GTK (RGTK) dan program Diklat Bauran yang memanfaatkan Learning Management System (LMS) RGTK. Skema ini memungkinkan guru di berbagai daerah mengikuti pelatihan secara fleksibel sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Kemendikdasmen berharap penguatan implementasi PMKKA berbasis mata pelajaran dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran mendalam, mengintegrasikan koding dan kecerdasan artifisial dalam proses pembelajaran, serta mendukung transformasi pendidikan nasional untuk menyiapkan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi di era digital. (hab)