JAKARTA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) RI menggelar sekaligus meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) di SLBN 02 Jakarta, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru tersebut menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat peran ayah sebagai bagian penting dalam pengasuhan serta mendukung tumbuh kembang anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji, mengatakan program GAMAS bertujuan mendorong para ayah meluangkan waktu untuk mendampingi dan mengantar anak ke sekolah sebagai wujud kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

Menurutnya, Kemendukbangga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) agar para ayah, khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN), memperoleh kesempatan mengantar anak pada hari pertama sekolah.

“Pak Menteri PAN-RB sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kementerian dan lembaga di Indonesia agar memberikan dispensasi bagi para ayah untuk menyempatkan waktu mengantar anak mereka ke sekolah, di mana pun mereka berada,” ujar Wihaji.

Ia menjelaskan, SLBN 02 Jakarta dipilih sebagai lokasi peninjauan karena menjadi tempat belajar sekitar 90 anak berkebutuhan khusus yang didampingi orang tua dengan komitmen tinggi dalam mendukung proses pendidikan dan perkembangan anak.

Menurut Wihaji, kehadiran ayah di sekolah memiliki dampak positif bagi perkembangan psikologis anak.

“Kehadiran ayah di SLB ini akan membangun kedekatan emosional, memberikan motivasi, serta menumbuhkan rasa percaya diri anak saat memulai tahun ajaran baru,” katanya.

Wihaji mengungkapkan, sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fenomena fatherless atau kehilangan figur ayah secara psikologis. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena kehadiran ayah sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak.

Ia juga mengingatkan bahwa minimnya keterlibatan orang tua dapat membuat peran tersebut tergantikan oleh penggunaan gawai secara berlebihan.

“Rata-rata delapan hingga sepuluh jam setiap hari, algoritma gawai dapat memengaruhi pikiran dan perilaku anak-anak kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wihaji menyebutkan saat ini hampir 250 ribu anak berkebutuhan khusus menempuh pendidikan di satuan pendidikan formal di Indonesia. Sementara di DKI Jakarta terdapat sekitar 6.000 anak berkebutuhan khusus yang sedang mengenyam pendidikan.

Ia turut mengapresiasi komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menyediakan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui keberadaan 13 Sekolah Luar Biasa (SLB) yang dikelola pemerintah daerah.

“Ada 13 SLB di bawah naungan Pemprov DKI Jakarta. Saya rasa semuanya memiliki fasilitas yang lengkap sehingga anak-anak yang lulus nantinya memiliki keterampilan untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, mengatakan Pemprov DKI Jakarta mendukung penuh pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah melalui Surat Edaran Sekretaris Daerah yang mengimbau para ASN mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk.

Selain itu, Dinas PPAPP terus memperkuat peran ayah dalam pengasuhan melalui program Ayah Idaman (AMAN) sebagai wadah pembelajaran dan berbagi pengalaman bagi para ayah dalam menerapkan pola asuh yang positif.

“Ayah Idaman adalah sosok ayah yang hadir dan mengikuti perkembangan anak secara langsung bersama keluarga. Hal ini dimulai dengan membangun komunikasi, menjalankan fungsi agama, serta berbagai fungsi lainnya untuk membentuk keluarga yang ideal,” kata Dwi Oktavia.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta, pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah diharapkan mampu mendorong semakin banyak ayah untuk terlibat aktif dalam pengasuhan.

Kehadiran ayah tidak hanya sebatas mengantar anak ke sekolah, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun kedekatan emosional, rasa aman, serta kepercayaan diri anak sebagai bekal menghadapi masa depan. (hab)