Oleh: Endang Oktaviyanti (Makeup Artist Profesional dan Wartawan Senior)
JAKARTA – Lampu sorot menyala terang, musik berdentam mengisi ruangan dan para model mulai melangkah anggun menyusuri panggung runway. Di mata penikmat mode, sebuah fashion show adalah perayaan keindahan, keanggunan, dan kreativitas yang tampak sempurna.
Bagi saya, panggung megah ini menyimpan dua cerita yang sangat berbeda, tergantung dari sudut mana saya berdiri. Dulu, saya berada di barisan depan dengan notebook dan kamera. Kini, saya berada di balik panggung riuh dengan kuas dan palet kosmetik di tangan.
Masa Lalu: Menatap Mode lewat Lensa Jurnalis
Saat masih berkecimpung di dunia jurnalistik, fashion show adalah arena berburu cerita. Tugas saya adalah menangkap esensi dari setiap koleksi yang dipamerkan, merangkum tren masa depan, serta mewawancarai para desainer papan atas yang baru saja sukses meluncurkan karya terbaik mereka.
”Sebagai jurnalis, fokus utama saya adalah mengamati hasil akhir: bagaimana busana bergerak elegan di atas panggung dan pesan apa yang ingin disampaikan sang desainer.”
Di mata saya kala itu, para model adalah sosok-sosok yang tanpa cela. Mereka berjalan memukau dengan gaun-gaun indah rancangan desainer ternama, memancarkan aura pesona luar biasa di bawah sorotan lampu runway.
Masa Kini: Melihat Perjuangan Nyata di Area Backstage
Kini, saya tak lagi berada di depan arena. Peran saya bergeser 180 derajat. Pemandangan saya bukan lagi panggung depan yang tertata rapi, melainkan area backstage yang riuh dan penuh dinamika.
Sebagai seorang Makeup Artist (MUA), sudut pandang saya terhadap para model pun berubah total. Ternyata, di balik beberapa menit penampilan yang tampak sempurna di runway, ada perjuangan fisik luar biasa yang jarang diketahui publik:
- Persiapan sebelum Subuh: Jauh sebelum penonton datang, bahkan saat langit masih gelap sebelum subuh, para model sudah harus berada di lokasi untuk menjalani serangkaian persiapan panjang.
- Mencuri Waktu Istirahat: Di antara jadwal fitting baju, latihan koreografi, dan antrean makeup, saya melihat mereka menyempatkan diri untuk sekadar menyenderkan kepala atau tidur lelap di kursi ruang tunggu demi mengumpulkan sisa energi.
- Ketahanan Profesional: Meski rasa lelah tak bisa dibohongi, begitu mereka duduk di kursi makeup dan akhirnya melangkah keluar ke runway, wajah-wajah lelah itu seketika bertransformasi menjadi sosok yang penuh percaya diri dan sangat profesional.
Dua Lensa, Satu Perjalanan
Perubahan peran dari seorang jurnalis menjadi MUA memberi saya cara pandang yang jauh berbeda. Dulu, tempat saya adalah di barisan penonton atau media center, menangkap pesan busana dan tren lewat barisan kata-kata. Kini, lokasi utama saya adalah di latar belakang, area backstage yang sibuk di mana fokus saya tertuju pada detail riasan, tekstur kulit, dan bagaimana menyempurnakan performa wajah sang model.
Jika dulu saya melihat model sebagai sosok anggun yang membawakan gaun indah desainer, kini saya memandang mereka sebagai pejuang profesional yang berdedikasi tinggi sejak subuh. Dulu saya menceritakan keindahan itu melalui artikel; sekarang saya membentuk keindahan itu secara langsung lewat seni rias pada kanvas hidup.
Dunia fashion show akan selalu memiliki daya pikatnya sendiri. Dulu saya menangkap keindahan itu dari depan panggung, sekarang saya ikut membentuknya dan menyaksikan langsung dedikasi luar biasa dari para insan di balik layar.
Ada begitu banyak keringat, rasa lelah, dan kerja keras yang tidak pernah tersorot kamera. Melihat perjuangan para model dari dekat membuat saya makin menghargai dan bangga dengan setiap detik karya yang tercipta di atas runway. (Hab)


Tinggalkan Balasan