JAKARTA RAYA – Penggabungan global antara Tata Motors dan Iveco Group diproyeksikan akan memperkuat iklim bisnis otomotif dunia.

Kolaborasi dua raksasa otomotif yang diumumkan pada 3 November 2026 dalam Global Press Meet” (Konferensi Pers Global) dengan tema “Tata Motors and Iveco Group Come Together to Build for the Future: Creating a New Global Force in Commercial Mobility”.

Mr. Natarajan Chandrasekaran – Chairman Tata Sons, Tata Motors, sekaligus Chairman baru bagi Iveco Group mengatakan hari ini menandai dimulainya babak baru yang mendebarkan bagi Tata Motors dan Iveco Group.

“Dua organisasi yang kuat dan sukses, disatukan oleh nilai-nilai yang sama, komitmen bersama terhadap mobilitas berkelanjutan, dan ambisi untuk membentuk masa depan transportasi komersial, telah bersatu untuk menciptakan perusahaan mobilitas komersial yang benar-benar global,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pihaknya akan berinvestasi untuk jangka panjang, memfasilitasi aliran ide dan kapabilitas ke dua arah, serta memanfaatkan skala, jangkauan, dan talenta gabungan kami untuk membentuk masa depan mobilitas yang lebih aman, lebih pintar, lebih terkoneksi, dan lebih berkelanjutan.

Mr. Olof Persson – Chief Executive Officer (CEO) Iveco Group, yang dipastikan akan tetap memimpin jalannya operasional harian Iveco di bawah payung Tata Motors mengatakan ini adalah momen penentu bagi Iveco Group, dan momen yang kami hadapi dengan penuh rasa percaya diri serta energi yang besar.

“Kami memulai babak baru ini dengan bangga, membawa serta merek-merek, talenta, kapabilitas, dan warisan industri yang telah membentuk perusahaan kami, di samping Tata Motors—sebuah mitra dengan kekuatan luar biasa, pemahaman mendalam tentang bisnis kendaraan komersial, serta perspektif jangka panjang dan komitmen bersama terhadap transportasi berkelanjutan,” ujarnya optimis.

Dengan merger ini, Tata dan Iveco membentuk kekuatan baru di peringkat keempat dunia dalam industri kendaraan komersial, dengan pendapatan gabungan mencapai €21 miliar (lebih dari Rp350 triliun) dan jangkauan operasional di 130 negara.

“Kami sangat senang dapat mewujudkan visi strategis kami menjadi realitas operasional bersama rekan-rekan kami di Iveco Group. Bersama-sama, kita memiliki peluang yang luar biasa untuk menciptakan nilai yang lebih besar bagi para pelanggan dan pemangku kepentingan kami,” ujar Mr. Girish Wagh, MD & CEO, Tata Motors.

Bagi dinamika ekonomi nasional si tanah air, langkah strategis ini membawa dampak signifikan pada beberapa sektor utama dimana sinergi ini menyatukan keahlian Iveco dalam teknologi kendaraan listrik (EV) dan hidrogen dengan dominasi Tata Motors di pasar berkembang (emerging markets).

Bagi Indonesia, yang tengah gencar mendorong hilirisasi nikel dan ekosistem kendaraan listrik, kolaborasi ini membuka peluang masuknya transfer teknologi powertrain ramah lingkungan untuk sektor transportasi massal dan logistik hulu.

Tata Motors memiliki rekam jejak kuat di Asia dengan portofolio kendaraan kargo tangguh (mulai di bawah 1 ton hingga 55 ton).

Masuknya pemain dalam skala ekonomi yang lebih besar berpotensi menghadirkan armada komersial yang lebih kompetitif dan efisien di pasar domestik.

Diharapkan hal ini bisa berdampak pada oenurunan biaya operasional armada transportasi akan langsung memberi efek positif pada efisiensi rantai pasok dan daya saing logistik nasional.

Dengan 27 situs manufaktur dan 25 pusat R&D global, entitas baru ini membuka peluang bagi pelaku industri komponen (suplier) di Indonesia untuk naik kelas ke rantai pasok global.

Standarisasi komponen yang dibawa oleh kemitraan ini memberi insentif bagi manufaktur lokal untuk meningkatkan kualitas produksi mereka agar memenuhi skala ekspor.

Sesuai komitmen kedua perusahaan, transisi operasional ini berjalan tanpa gangguan (seamless continuity).

“Kontrak pelanggan, jaringan diler, layanan purnajual, serta skema pembiayaan Tata Motors yang sudah berjalan di Indonesia dipastikan tetap berlanjut normal,” ujarnya.

Hal ini menjaga sentimen positif dan kepercayaan para pelaku usaha yang mengandalkan kendaraan komersial untuk operasional harian mereka.

Mengingat Indonesia sedang gencar melakukan modernisasi logistik dan transisi menuju energi bersih, beberapa lini produk gabungan Tata-Iveco punya potensi pasar sangat besar di Indonesia antara lain truk heavy-futy premium untuk Tambang dan logistik jarak jauh dimana truk Flagship IVECO S-Way bisa memasuki pasar komoditas seperti batu bara dan nikel serta logistik Trans-Jawa membutuhkan truk heavy-duty dengan daya tahan tinggi.

IVECO S-Way juga memenuhi standar emisi ketat Eropa dan dapat diintegrasikan dengan jaringan distribusi Tata di Indonesia dalam menjawab tantangan dominasi pabrikan Eropa lain serta Jepang khususnya di sektor pertambangan korporat.

Tata Prima Series yang merupakan truk berat andalan Tata juga bisa menapaki kans peningkatan performa besar lewat adopsi mesin (powertrain) canggih dari FPT Industrial (anak perusahaan Iveco) agar lebih bertenaga namun tetap efisien untuk infrastruktur Indonesia.

Sementara itu di bidang transportasi umum, IVECO BUS & Heuliez (Bus Listrik/EV & Gas) yang merupakan merupakan salah satu pemimpin pasar bus kota di Eropa bisa menjadi opsi bagi Indonesia, terutama dalam hal produk bus berbasis listrik (BEV) maupun gas alam (CNG), dengan membidik peremajaan armada transportasi massal seperti TransJakarta atau bus antarkota (koridor BRT) yang menuntut standar emisi bersih.

Sementara itu, untuk kendaraan niaga ringan dan logistik perdesaan Ada Tata Yodha & Tata Ultra T.7.

Lini ini sudah terbukti memiliki pasar masif di Indonesia. Tata Motors saat ini bahkan sedang memenuhi pesanan besar sebanyak 70.000 unit kendaraan (terdiri dari pikap Yodha dan truk ringan Ultra T.7) untuk memperkuat rantai pasok pertanian dan logistik perdesaan di Indonesia melalui PT Agrinas Pangan Nusantara.

Ada pula Tata Ace EV (Mini Truck Listrik): Truk last-mile delivery berbasis listrik ini sangat potensial untuk sektor e-commerce dan pengiriman logistik perkotaan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang mulai menerapkan pembatasan emisi.

Tak ketinggalan, untuk Mesin Multi-Fuel FPT, selain kendaraan utuh, mesin-mesin buatan FPT Industrial (bagian dari Iveco Group) yang mendukung bahan bakar hidrogen, gas alam, maupun diesel bio-campuran (seperti Biodiesel B35/B40 di Indonesia) memiliki potensi besar untuk diaplikasikan pada industri genset, alat berat konstruksi, hingga kapal-kapal logistik antar pulau di Indonesia. (Rieska Wulandari – Turin, Italia.)