Jakarta – Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Bali, I Wayan Sudirta, menyoroti keras kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu antrean panjang hingga berjam-jam di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Denpasar, Badung, Tabanan dan beberapa Kabupaten lainnya di Bali, dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dinilai sangat merugikan aktivitas ekonomi masyarakat dan berpotensi mencoreng citra Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.
​
Berdasarkan pengecekatan fakta langsung dan laporan di lapangan, antrean kendaraan mengular hingga ke jalan raya dan memicu kemacetan parah di sejumlah titik. Masyarakat, mulai dari pekerja harian, pengemudi ojek online, hingga wisatawan, harus kehilangan waktu produktif mereka hanya untuk mendapatkan BBM, ujar Wayan Sudirta yang juga dikenal sebagai Kepala Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Pusat PDI Perjuangan.
​
“Saya sangat prihatin dan menyayangkan terjadinya krisis pasokan BBM di Bali. Bali adalah etalase pariwisata Indonesia yang mobilitas masyarakatnya sangat tinggi. Keterlambatan distribusi dengan alasan kendala logistik kapal yang bersandar di Terminal Manggis maupun Sanggaran tidak boleh menjadi alasan klasik yang terus berulang. Masyarakat kita yang menjadi korban, waktu mereka terbuang, dan ekonomi rakyat kecil terhambat,” tegas Wayan Sudirta.
​
Meski pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus telah mengonfirmasi bahwa kelangkaan ini disebabkan oleh keterlambatan kapal tanker dan saat ini telah menambah pasokan sebesar 26.200 kiloliter serta mengoperasikan terminal tertentu 24 jam penuh, Sudirta menilai langkah penanganan harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat dan evaluasi menyeluruh.

Terobosan Gubernur Bali Wayan Koster yang menginstruksikan agar seluruh SPBU yang ada di Denpasar dan Badung untuk membuka layanan selama 24 jam memang cukup membantu untuk mengurangi masalah, namun menurut pengelihatan langsung di lapangan, Wayan Sudirta menemukan bahwa sekalipun SPBU beroperasi 24 jam, akan tetapi sebagaian dari SPBU yang ada sudah kehabisan minyak untuk dijual.
​
Untuk mengatasi krisis ini secara tuntas dan mencegah hal serupa terulang, I Wayan Sudirta menawarkan dan mendesak beberapa solusi strategis:
1. ​Pertamina harus memastikan tambahan pasokan BBM benar-benar terdistribusi merata ke seluruh SPBU yang kosong, khususnya di titik-titik krusial seperti Denpasar, Badung, dan Tabanan. Operasional 24 jam di Terminal Sanggaran dan Manggis harus diawasi ketat implementasinya di lapangan oleh pihak yang berwajib.
2. ​Mengapresiasi jajaran Kepolisian (Polres dan Polsek setempat) yang telah turun ke lapangan, namun intensitas pengamanan di area SPBU harus ditingkatkan secara maksimal, antara lain untuk mengatasi kemacetan, membantu menyampaikan informasi kepada Masyarakat yang sedang mengantre dan lain-lain. Pengaturan lalu lintas mutlak diperlukan agar antrean tidak melumpuhkan urat nadi jalan-jalan utama.
Polda Bali perlu memberikan dukungan maksimal kepada personil Polres dan Polsek yang telah bertugas dilapangan.
3. ​Pertamina wajib mengevaluasi sistem manajemen rantai pasok maritim (maritime supply chain) untuk wilayah Bali. Harus ada skenario cadangan (Rencana Kontingensi) jika terjadi cuaca buruk atau kendala operasional kapal tanker, sehingga buffer stock (stok penyangga) di terminal darat mampu memenuhi kebutuhan hingga pasokan baru tiba.
4. Petugas ​Pertamina, Kepolisian dari Polda Bali dan aparat Pemerintah harus memberikan informasi yang real-time secara aktif dan terus menerus kepada masyarakat terkait SPBU mana saja yang stoknya tersedia. Hal ini penting untuk mencegah panic buying dan penumpukan antrean di satu titik saja.
Karena ditemukan fakta dilapangan sejumlah Masyarakat yang sudah antre berjam-jam di SPBU kemudian gagal membelinya karena SPBU kehabisan minyak. Ada juga Masyarakat yang antre sejak jam 6 pagi, tiba-tiba pada jam 9 mendapat informasi dari SPBU bahwa penjualan minyak baru bisa dilakukan jam 13 siang, sehingga mereka harus balik kerumahnya setelah antre 3 jam, karena keterlambatan pemberian informasi kepada Masyarakat.
​
“Sebagai wakil rakyat Bali, saya akan terus berusaha memantau perkembangan situasi ini. Kami meminta Pertamina untuk menjamin bahwa dalam 1×24 jam ke depan, kelangkaan ini bisa terurai dan pasokan kembali normal. Jangan biarkan masyarakat Bali kesulitan di tanahnya sendiri,” tutup Sudirta.

Sedangkan pengusaha Rental Mobik Bikini Garage Dendi Satrio menyampaikan keresahannya, bahwa kondisi seperti ini sangat memprihatinkan.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan karna semua rental mobil dan motor di bali tidak dapat melakukan kegiatan normal, karna semua kendaraan tidak mendapatkan bbm” jelas Dendi Satrio.