JAKARTA RAYA – Gelombang panas ekstrem akibat antisiklon Afrika “Caronte” terus memanggang wilayah Italia dan sebagian besar Eropa Tengah serta Barat.
Suhu udara melonjak drastis hingga mendekati 40–45 derajat Celsius, memicu alarm darurat nasional, kerusakan infrastruktur, hingga jatuhnya korban jiwa.
Kantor berita Anadolu melansir Kementerian Kesehatan Italia telah memperluas status peringatan merah (red alert) ke-18 kota besar, termasuk kota wisata utama seperti Roma, Milan, Florence, Turin, Genoa, dan Venesia.
Status siaga tertinggi ini menunjukkan bahwa suhu ekstrem saat ini tidak hanya berbahaya bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, melainkan juga bagi populasi yang sehat.
Sementara kantor berita Italia, Ansa, mencatat korban jiwa dan krisis kesehatan hingga akhir Juni 2026, telah merenggut sedikitnya lima orang meninggal dunia akibat sengatan panas (heatstroke) dan serangan jantung saat beraktivitas di luar ruangan.
Salah satu korban merupakan turis lansia berusia 82 tahun yang pingsan setelah berenang di pantai Marina di Grosseto, serta pekerja pertanian yang kolaps di ladang kawasan Lodi dan Piacenza.
Otoritas setempat mengimbau warga dan jutaan turis asing untuk tidak keluar ruangan pada jam-jam terik (pukul 11.00 hingga 18.00) dan memperbanyak minum air.
Warga juga diimbau memanfaatkan posko air minum publik serta fasilitas penyemprot uap air (water mist) yang disediakan oleh Perlindungan Sipil Italia di dekat situs sejarah seperti Colosseum.
Infrastruktur Kota Mulai Lumpuh
Tingginya suhu udara yang dikombinasikan dengan paparan sinar matahari berkepanjangan mulai merusak fasilitas publik.
Fasilitas yang meleleh karena tak kuat cuaca panas, misalnya di beberapa wilayah perkotaan, beredar video visual lampu lalu lintas yang meleyot dan berubah bentuk akibat panasnya aspal dan suhu udara yang ekstrem.
Pemadaman Listrik dan Pelayanan Publik
Krisis Listrik akibat lonjakan penggunaan pendingin ruangan (AC) memicu beban berlebih pada jaringan listrik lokal, menyebabkan pemadaman listrik massal (blackout) berulang di kota Turin,
Pelayanan publik juga terganggu, dimana pengadilan non-darurat di Palermo terpaksa ditunda akibat kerusakan sistem pendingin udara, Galeri Uffizi di Florence membatasi jam kunjungan wisatawan demi keselamatan.
Krisis Lingkungan Memperparah Situasi
Kondisi alam Italia turut mengalami tekanan hebat. Debit air Sungai Po, jalur air terpanjang dan paling vital bagi sektor pertanian Italia, dilaporkan runtuh dari rata-rata normal 1.500 meter kubik per detik menjadi hanya 300 meter kubik per detik.
Akibatnya, air laut dari Laut Adriatika merangsek masuk hingga 20 kilometer ke daratan (hulu sungai), mencemari pasokan air bersih untuk irigasi, memicu ledakan populasi kepiting biru, serta menyebabkan kematian massal komoditas kerang di delta sungai.
Organisasi lingkungan hidup, Legambiente, memperkirakan cadangan air bersih di wilayah utara kini hanya tersisa kurang dari tiga minggu.
Fenomena “Omega Block”
Para ahli meteorologi dari iLMeteo.it, situs yang mwmantau suhu dan iklim di Italia, menjelaskan bahwa gelombang panas ini dipicu oleh pola cuaca “Omega block”, yaitu kondisi atmosfer yang memerangkap gumpalan udara panas dari Gurun Sahara di atas wilayah Mediterania dalam waktu lama.
Para ilmuwan dari badan World Weather Attribution juga menegaskan bahwa emisi bahan bakar fosil membuat gelombang panas Juni 2026 ini bertambah panas sekitar 2 hingga 3,5 derajat Celsius dibanding analogi historis dekade lalu.
Meskipun cuaca panas ekstrem ini diperkirakan baru mereda di awal Juli dengan datangnya potensi badai hujan mengguyur wilayah Utara, pemerintah meminta warga tetap waspada menghadapi potensi “normal baru” musim panas yang semakin mematikan. (Rieska Wulandari).


Tinggalkan Balasan