JAKARTA RAYA – Calon Wakil Presiden Nomor Urut 3, Mahfud MD menekankan kepada masyarakat untuk memilih calon pemimpin dalam perhelatan kontestasi politik sesuai dengan bisikan hati nurani. Bukan atas dasar iming-iming uang, atau paksaan dari berbagai pihak.

Hal itu dikatakan Mahfud saat melakukan Halaqoh Kebangsaan di Pondok Pesantren Canga’an, Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (12/1/2024).

Pada kesempatan tersebut, Mahfud MD juga mengutip salah satu ayat Alquran, Surat Al – A’raf ayat 179 yang berbunyi: “wa laqad dzara’nâ lijahannama katsîram minal-jinni wal-insi lahum qulûbul lâ yafqahûna bihâ wa lahum a‘yunul lâ yubshirûna bihâ wa lahum âdzânul lâ yasma‘ûna bihâ, ulâ’ika kal-an‘âmi bal hum adlall, ulâ’ika humul-ghâfilûn.”

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-A’raaf: 179)

“Sekelompok jin dan manusia dicampakkan ke neraka jahanam karena mereka punya hati tetapi tidak menggunakan hati nuraninya untuk memahami dan membela yang benar, itu firman allah, masuk neraka jahanam,” ujar Mahfud di Pasuruan, Jumat (12/1/2024).

“Kalau anda memilih, karena disuap itu masuk neraka jahanam, karena yang ditekan dan yang mau ditekan itu berdosa, punya mata tapi tidak mau tahu kebenaran, sudah tau salah, pura pura tidak tahu juga,” sambungnya.

Mahfud memberikan contoh, mislanya ada calon pemimpin yang menjadi kontestan politik, tapi sudah jelas dan diketahui memiliki sebuah kesalahan, dan dilipih hanya sebatas iming-iming uang.

“Misalnya, itu salah tuh, karena melanggar hukum, melanggar konstitusi, melanggar apa, nah orang yang seperti itu. Mendukung orang yang salah, itu berdosa, karena mata tidak digunakan untuk melihat kebenaran,” kata Mahfud.

Berdasarkan dalil tersdebut, menurutnya orang yang memilih tidak sesuai dengan bisikan hati nurani, ibarat binatang ternak, binatang ternak kaitannya dengan idul adha hanya bernasib untuk disembelih, atau dikorbankan.

“Maka teguhkan dari sekarang, saya akan memilih dengan keyakinan saya mana yang benar, seusai dengan fatwa dan pandangan para ustad, pimpinan pondok, seusai tuntunan yang benar,” tutupnya.(hab)