JAKARTA RAYA — Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, mengirimkan telegram belasungkawa resmi atas bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Flores, Indonesia.
Pesan duka yang memuat solidaritas spiritual mendalam ini ditujukan langsung kepada Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.
Dokumen diplomatik kepausan tertanggal 17 Agustus 2026 tersebut ditandatangani secara resmi oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin.
Melalui kanal berita resmi Vatican News, Tahta Suci menegaskan kedekatan batinnya dengan seluruh masyarakat Indonesia yang tengah terluka akibat bencana besar ini.
Solidaritas dan Dorongan Kemanusiaan Vatikan
Dalam lembaran telegram resmi tersebut, ada beberapa poin krusial yang disampaikan oleh Bapa Suci: yaitu Kedekatan Spiritual dimana Paus Leo XIV mengaku “sangat sedih” mendengar kabar kehancuran masif, runtuhnya pemukiman, serta jatuhnya korban jiwa di wilayah NTT.
Ia juga menyorot pengungsi dan menyampaikan agar perhatian utama diberikan kepada ribuan warga yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka serta para korban cedera yang masih bertahan di posko darurat.
Paus Leo juga mendorong sinergi antara otoritas sipil dan gereja agar para pemimpin Gerejawi serta jajaran otoritas Sipil setempat dapat bahu-membahu dalam mempercepat jalannya penyaluran bantuan kemanusiaan.
Ia juga menyampaikan doa dan verkat dimana secara khusus, Bapa Suci mendoakan ketabahan bagi para petugas tanggap darurat yang berjuang di garda depan evakuasi, sekaligus memohon berkat kekuatan ilahi bagi para penyintas bencana.
Dampak Gempa Bumi Flores 2026
Bencana alam yang memicu reaksi cepat Vatikan ini terjadi pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa guncangan utama bermagnitudo 7,7 tersebut telah memicu ribuan gempa susulan (aftershocks) yang membuat warga Flores dan sekitarnya dilingkupi rasa trauma.
Hingga rilis berita ini diturunkan, posko gabungan mencatat adanya puluhan korban meninggal dunia, ratusan luka-luka, serta lebih dari 13.000 warga kehilangan tempat tinggal.
Dukungan moril internasional melalui dokumen resmi kepausan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan warga lokal serta memantik gerakan solidaritas kemanusiaan global yang lebih luas. (Rieska Wulandari)


Tinggalkan Balasan