JAKARTA RAYA – Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) berkolaborasi dengan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI), Himpunan Pelukis Jakarta (Hipta), dan Asosiasi Pelukis Nusantara (Aspen)menggelar Seminar Nasional dan Pameran Lukisan bertajuk “Revitalisasi Keraton Nusantara” di Antara Heritage Center, pada 24–28 April 2026.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya pada Jumat (24/4/2026). Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa warisan budaya leluhur memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif di era digital.
Menurut Riefky, kekayaan sejarah, cerita, dan kearifan lokal Indonesia dapat “dihilirkan” melalui sentuhan inovasi, teknologi, dan kreativitas sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
“Akar budaya yang kuat bisa kita turunkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi, sekaligus menghidupkan kembali sejarah dan perjalanan bangsa,” ujarnya.
Ia mencontohkan, negara-negara dengan fondasi budaya yang kuat mampu mengembangkan industri kreatif berbasis sejarah dan tradisi ke dalam berbagai sektor, seperti film, fesyen, kuliner, hingga gim.
Potensi tersebut, lanjutnya, sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki ratusan wilayah dengan kekayaan cerita lokal. Bahkan, ia menyebut kekuatan storytelling sebagai “the new mining” dalam ekonomi kreatif.
“Sebanyak 514 kabupaten di Indonesia tidak akan pernah kehabisan cerita. Dari sana bisa lahir karya seperti komik, film, animasi, hingga gim yang bernilai ekonomi,” jelasnya.
Riefky juga menegaskan bahwa revitalisasi keraton tidak hanya soal pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah keraton.
Untuk itu, diperlukan kolaborasi hexahelix yang melibatkan komunitas, akademisi, pemerintah, media, dan sektor keuangan dalam mengembangkan potensi tersebut.
“Revitalisasi keraton akan memberikan multiplier effect bagi ekonomi daerah, bukan sekadar bantuan, tetapi perputaran ekonomi yang nyata,” tegasnya.
Kementerian Ekonomi Kreatif pun menyatakan komitmennya untuk berkolaborasi dengan FSKN dalam mengembangkan program berbasis budaya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Sementara itu, Ketua Umum FSKN, AA Mapparessa, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menjaga warisan leluhur sebagai identitas bangsa.
“Keraton bukan hanya bangunan, tetapi pusat nilai, kearifan lokal, dan simbol persatuan yang harus terus dihidupkan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa revitalisasi keraton mencakup upaya menghidupkan kembali nilai-nilai budaya seperti toleransi dan kebersamaan yang menjadi fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketua Panitia, Dedi Yusmen, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara penjaga tradisi dan seniman dalam merumuskan strategi pelestarian budaya melalui dialog dan karya seni.
Sebanyak 44 pelukis ambil bagian dalam pameran ini dengan menghadirkan karya-karya yang merepresentasikan keraton tidak hanya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai simbol peradaban dan identitas bangsa.
Sekretaris Jenderal Hipta, Semut Prasidha, menilai kegiatan ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat posisi keraton sebagai cagar budaya yang harus terus dijaga.
Sementara itu, Ketua Umum Aspen, Kembang Sepatu, menegaskan bahwa seni rupa memiliki peran penting dalam merawat dan menafsirkan ulang identitas budaya di tengah arus modernisasi.
“Keraton harus dilihat bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi masa depan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, pameran “Revitalisasi Keraton Nusantara” tidak hanya menjadi ajang seni, tetapi juga gerakan kultural yang mendorong pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif berbasis warisan leluhur Indonesia. (Hab)


Tinggalkan Balasan