Oleh: Rieska Wulandari (Jurnalis Terakreditasi – Milan, Italia)
Fenomena gerhana bulan total atau yang kerap disebut Blood Moon terjadi pada 3 Maret 2026 dan dapat disaksikan di kawasan Asia, Asia Pasifik, Australia, Amerika Utara, hingga Amerika Tengah. Di Indonesia, gerhana bulan total ini terlihat mulai pukul 18.03 hingga sekitar 21.24 WIB.
Secara ilmiah, warna merah pada Blood Moon terjadi akibat pembiasan dan penyaringan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, yang dikenal sebagai fenomena hamburan Rayleigh. Saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, cahaya biru tersebar lebih kuat, sementara cahaya merah tetap diteruskan dan memantul ke permukaan Bulan, sehingga menciptakan efek kemerahan dramatis.
Namun dalam sejarah panjang peradaban manusia, Blood Moon kerap dimaknai lebih dari sekadar fenomena astronomi. Banyak budaya kuno mengaitkan gerhana bulan total dengan pertanda kematian raja, pemimpin besar, atau runtuhnya kekuasaan tiran.
Blood Moon dan Kematian Herodes Agung
Salah satu catatan sejarah yang sering dikaitkan dengan gerhana bulan adalah wafatnya Herodes Agung, Raja Yudea yang dikenal sebagai penguasa kejam dan paranoid.
Sejarawan Romawi-Yahudi Flavius Josephus mencatat bahwa Herodes meninggal tidak lama setelah terjadinya gerhana bulan. Bagi masyarakat saat itu, peristiwa langit tersebut dianggap sebagai pertanda berakhirnya kekuasaan seorang tiran.
Herodes dikenal luas dalam tradisi Kristen melalui kisah “Pembantaian Orang-orang Tak Bersalah” atau Massacre of the Innocents. Dalam Injil Matius 2:16–18, diceritakan bahwa Herodes memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki berusia dua tahun ke bawah di Betlehem, setelah mendengar kabar kelahiran “Raja orang Yahudi”.
Tak hanya itu, dalam sejarah politiknya, Herodes juga mengeksekusi istrinya Mariamne, ibu mertuanya Alexandra, saudara iparnya Aristobulus, serta putra-putranya sendiri—Antipater, Alexander, dan Aristobulus—karena dicurigai akan merebut takhta.
Bayi Yesus sendiri selamat setelah Yusuf mendapat peringatan melalui mimpi dan membawa keluarganya mengungsi ke Mesir. Yesus baru kembali setelah Herodes wafat. Kematian Herodes yang berdekatan dengan fenomena gerhana bulan kemudian diingat sebagai simbol berakhirnya rezim lalim.
Tradisi Babilonia: Ritual Raja Pengganti
Dalam tradisi Babilonia kuno sekitar 4.000 tahun lalu, gerhana bulan diyakini sebagai pertanda kematian raja. Untuk menghindari takdir buruk, masyarakat melakukan ritual “raja pengganti”.
Selama gerhana berlangsung, seorang rakyat biasa diangkat menjadi raja sementara. Diyakini bahwa jika “kutukan dewa” turun, maka sang raja pengganti itulah yang akan menerima nasib buruk tersebut, bukan raja sesungguhnya. Praktik ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan kuno terhadap makna kosmik dari gerhana bulan.
Kematian Ali Khamenei dan Blood Moon 2026
Tiga hari sebelum fenomena Blood Moon 3 Maret 2026, dunia dikejutkan oleh kabar tewasnya Ali Khamenei dalam serangan yang disebut sebagai decapitation strike di Teheran pada 28 Februari 2026.
Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran selama lebih dari tiga dekade. Ia memegang otoritas tertinggi atas kebijakan militer, peradilan, dan strategi nasional, tanpa mekanisme pemilu langsung untuk menggantinya.
Berbagai organisasi hak asasi manusia dan pengamat internasional selama bertahun-tahun mengkritik kepemimpinannya yang dinilai otoriter. Penumpasan demonstrasi, termasuk gerakan “Woman, Life, Freedom” tahun 2022 serta protes kenaikan harga bahan bakar 2019, menjadi sorotan dunia.
Di bawah pemerintahannya, Iran juga mencatat angka eksekusi yang tinggi, pembatasan kebebasan pers, sensor internet, serta tindakan represif terhadap oposisi dan minoritas.
Kematian Khamenei memicu reaksi beragam di dalam negeri. Sebagian warga menyambutnya sebagai momentum perubahan politik, sementara lainnya berduka dan memandangnya sebagai pemimpin ideologis yang setia pada garis revolusi.
Mitos atau Kebetulan Sejarah?
Sains modern menegaskan bahwa gerhana bulan total adalah fenomena astronomi yang sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Tidak ada hubungan kausal antara Blood Moon dan kematian seorang pemimpin.
Namun sejarah menunjukkan bahwa manusia kerap mencari makna simbolik dari peristiwa langit. Dari kematian Herodes di era Romawi hingga wafatnya pemimpin modern di abad ke-21, narasi tentang Blood Moon sebagai pertanda berakhirnya tirani terus hidup dalam imajinasi kolektif.
Apakah Blood Moon 2026 sekadar fenomena optik? Ataukah ia akan kembali dicatat sebagai simbol perubahan zaman? Jawabannya mungkin tidak berada di langit, melainkan dalam cara manusia menafsirkan sejarah. (***)


Tinggalkan Balasan