JAKARTARAYA – Ribuan massa “Non Una Di Meno” memadati pusat kota Milan pada Minggu (8/3/2026). Mereka menggelar aksi transfeminis dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.

Para demonstran mengusung slogan “Disarmiamo il Patriarcato”. Istilah “disarmiamo” yang berarti melucuti senjata, digunakan untuk menegaskan bahwa patriarki bukan sekadar perilaku individu.

Melainkan sistem yang “bersenjata” melalui kekerasan fisik, psikologis, ekonomi, dan institusional sangat relevan dengan semangat mengurangi kekerasan terhadap perempuan yang kental dalam budaya militerisme dan perang.

Gerakan ini berargumen bahwa logika dominasi yang memicu perang adalah logika yang sama dengan yang menindas tubuh perempuan.

Demonstran Bawa Bendera Palestina Menentang Perang di Timur Tengah.

Spanduk dari berbagai afiliasi, mulai dari organisasi perempuan bernafas gerakan feminisme hingga komunisme, membawa pesan menuntut diakhirinya kekerasan gender, patriarki, dan perang.

Massa pendemo menyebabkan penutupan jalan dan pengalihan lalu lintas di sekitar Piazza Duca d’Aosta hingga Piazza Fontana.

Secara harfiah, “Non Una Di Meno” atau dalam bahasa Inggris: Not one [woman] less, berarti “Tidak berkurang satu pun perempuan” dibunuh (femicide), atau menjadi korban kekerasan.

Slogan dan nama gerakan feminis akar rumput (grassroots) internasional ini bertujuan untuk melawan kekerasan berbasis gender dan patriarki.

Berakar dari gerakan Amerika Latin bernama “Ni una menos” (bahasa Spanyol), yang dimulai di Argentina sebelum akhirnya menyebar ke Italia dan negara-negara lain.

Gerakan ini sering mengadakan aksi mogok kerja, demonstrasi, dan kampanye melawan kekerasan patriarkal.

Terutama di Italia, gerakan ini bertujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, kesetaraan gender, dan menuntut tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan seksual serta pembunuhan perempuan. (Rieska Wulandari – Jurnalis terakreditasi di Milan).